Kesaksian Penuh Rasa Takut Pengungsi Kurdi di Suriah

    Arpan Rahman - 18 Oktober 2019 10:32 WIB
    Kesaksian Penuh Rasa Takut Pengungsi Kurdi di Suriah
    Warga Suriah yang mengungsi dari invasi Turki ke wilayah kelompok Kurdi. Foto: AFP
    Bardarash: Inilah beberapa orang yang digambarkan Donald Trump sebagai ‘bukan malaikat’ -- para pengungsi Kurdi Suriah melarikan diri dari konflik perbatasan yang menurutnya ‘tidak ada hubungannya dengan’ Amerika Serikat.

    Anak kecil merawat saudara mereka yang lebih kecil; bayi meratap, orang tua kelelahan, yang terluka, orang dewasa dan orang cacat. Semuanya tiba Rabu malam di kamp pengungsi Bardarash di bukit Kurdistan, Irak untuk masa tinggal yang tidak terbatas sebagai pengungsi.

    Salah satunya Solen, gadis berusia 12 tahun, yang tersenyum malu-malu dan mengangguk bahwa alat musik yang tergantung di bahunya adalah kecapi. Di dalam debu dan air mata di kamp, instrumen berleher panjang dan halus itu pemandangan ganjil.

    Solen, ibunya Najah dan adik lelakinya, Jowan ada di antara 284 orang yang tiba dengan 12 minibus dari perbatasan Suriah dengan Irak. 500 lainnya datang sore harinya.

    Kamp ini, di perbukitan dekat Mosul, telah dihancurkan selama lebih dari setahun. Dibangun pada 2015 untuk mengakomodasi warga Irak yang melarikan diri dari khalifah Islamic State (ISIS). Tetapi ditutup pada 2017 setelah ISIS dikalahkan.

    Namun kekerasan yang melanda Suriah dan Irak telah memberikan kejutan lain -- Trump secara tiba-tiba menarik pasukan AS dari Suriah dan invasi langsung Turki. Jadi pihak berwenang di Kurdistan Irak dengan segera membuka kembali kota tenda ini untuk mengakomodasi orang-orang yang melarikan diri tanpa dokumen.

    Bardarash dapat menampung hingga 3.000 orang ketika sudah beroperasi dan, "Berdasarkan jumlah orang yang tiba tadi malam, itu akan segera penuh," kata Rawaj Haji, kepala media dan penelitian di LSM Kurdi setempat, Yayasan Amal Barzani.

    Lebih dari 830 orang melintasi perbatasan dalam satu malam pada Selasa -- aliran pengungsi semakin cepat -- dan Irak memperkirakan puluhan, mungkin ratusan ribu lebih menyusul.

    Perang saudara Suriah berkobar selama delapan tahun sejak Arab Spring runtuh menjadi kekerasan. Tetapi beberapa dari mereka yang tiba di Badarash mengatakan pekan lalu membawa ketakutan ke desa-desa mereka untuk pertama kalinya.

    "Kami belum pernah merasa takut sebelumnya," kata Ranya, dirilis dari Sydney Morning Herald, Kamis 17 Oktober 2019. Datang dari kota Qamishli, Suriah timur laut, dia dan keluarganya pergi karena segalanya menjadi "lebih buruk, lebih berbahaya, dengan lebih banyak pengeboman".

    Orang-orang biasa di sini takut pada kedua belah pihak: Turki dan tentara rezim Suriah.

    Jowan, 16, melarikan diri bersama keluarganya karena, "Di Rojava (merujuk pada daerah yang sebelumnya dikuasai oleh Kurdi di Suriah timur), kami selalu takut".

    Hati mereka pasti merasa pahit ketika mereka mengitari tikungan di jalan dan melihat rumah sementara mereka yang baru -- serangkaian tenda dan bunker beton disusun di lereng bukit yang terbuka. Tetapi mereka mengatakan itu lebih baik daripada rumah yang mereka hindari karena aman.

    Sebagian besar orang yang tiba di kamp membawa barang bawaan yang berbuntal dan tidak berbentuk yang hanya berisi barang-barang yang sangat diperlukan dan portabel.

    Lalu ada kecapi Solen. Dia membawanya, katanya, hanya karena dia suka memainkannya.



    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id