Liga Arab Tolak Rencana Perdamaian Trump

    Arpan Rahman - 02 Februari 2020 13:35 WIB
    Liga Arab Tolak Rencana Perdamaian Trump
    Pertemuan darurat Liga Arab di Kairo, Mesir, pada Sabtu 1 Februari 2020, diusulkan oleh Presiden Palestina Mahmoud Abbas. (Foto: AFP / Khaled DESOUKI)
    Kairo: Liga Arab sepenuhnya menolak rencana perdamaian Palestina-Israel versi Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam sebuah pertemuan darurat di Kairo, Mesir, Sabtu 1 Februari. Liga Arab menyebut rencana tersebut tidak akan berujung pada kesepakatan damai yang adil.

    "Menolak 'Perjanjian Abad ini' versi AS-Israel yang tidak memenuhi hak-hak minimum dan aspirasi masyarakat Palestina," ungkap pernyataan resmi Liga Arab, dilansir dari Al Jazeera, Minggu 2 Februari 2020.

    Negara-negara anggota Liga Arab juga sepakat untuk "tidak bekerja sama dengan pemerintahan AS dalam pengimplementasian rencana tersebut." Mereka juga menyerukan agar Israel tidak mengimplementasikan rencana Trump tersebut dengan menggunakan kekuatan.

    Seperti sebelumnya, sejumlah negara Arab juga menyerukan agar rencana perdamaian tetap meliputi Solusi Dua Negara (Two-State Solution) berdasarkan garis-garis perbatasan sebelum perang 1967, saat Israel menduduki Tepi Barat, Gaza dan Yerusalem Timur. Mereka juga menyerukan agar Yerusalem Timur dijadikan ibu kota Palestina di masa mendatang.

    Pertemuan darurat Liga Arab di Kairo diusulkan oleh Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas, yang merasa rencana perdamaian Trump lebih menguntungkan Israel. Rencana tersebut diumumkan Trump di Washington pada Selasa 28 Januari.

    Dalam rencana yang disampaikan Trump, AS mendukung Yerusalem sebagai "ibu kota seutuhnya" Israel. Padahal, Palestina memandang Yerusalem Timur sebagai ibu kota mereka di masa mendatang.
     
    Tidak hanya itu, rencana perdamaian Timur Tengah ala Trump juga membiarkan Israel menganeksasi sejumlah permukiman di Tepi Barat yang merupakan milik Palestina.

    Rencana Trump memaparkan sebuah visi mengenai status negara berdaulat Palestina di masa mendatang. Disebutkan bahwa Palestina nantinya bisa menjadi sebuah negara jika bisa memenuhi sejumlah syarat.
     
    Salah satu syaratnya adalah Palestina tidak boleh memiliki kekuatan militer, atau istilah lainnya demiliterisasi.

    "Mereka bilang Trump ingin mengirimkan 'Perjanjian Abad Ini' agar bisa dibaca oleh saya. Saya bilang saya tidak mau," tegas Abbas di hadapan jajaran menteri luar negeri Liga Arab.

    Berdiri di podium Gedung Putih pada Selasa 28 Januari, Trump mencoba menyampaikan visinya mengenai Palestina dan Israel di masa mendatang. Menurutnya, rencana investasi senilai USD50 miliar atau setara Rp681 triliun dapat menghapuskan penderitaan masyarakat Palestina, dan di waktu yang bersamaan tetap menjamin sektor keamanan Israel.
     
    Mengkritik rencana perdamaian yang disusun beberapa pemerintahan AS terdahulu, Trump menyebut versinya memiliki 80 halaman dan juga meliputi sebuah peta posisi negara Israel dan Palestina di masa mendatang.



    (WIL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id