Lebanon Umumkan Kabinet Baru untuk Akhiri Krisis

    Willy Haryono - 22 Januari 2020 07:58 WIB
    Lebanon Umumkan Kabinet Baru untuk Akhiri Krisis
    PM Lebanon Hassan Diab dalam konferensi pers di Baabda, 21 Januari 2020. (Foto: AFP/DALATI AND NOHRA)
    Beirut: Lebanon akhirnya mengumumkan kabinet baru pada Selasa 21 Januari 2020, setelah hampir tiga bulan dilanda krisis kepemimpinan dan juga keamanan pascamundurnya Saad Hariri. Kabinet baru ini terdiri dari jajaran 20 menteri.

    Gelombang unjuk rasa melanda Lebanon usai Hariri mengundurkan diri. Inti dari tuntutan demonstran adalah membongkar sistem politik dan keuangan Lebanon yang dinilai sudah terlalu usang.

    Perdana Menteri Lebanon Hassan Diab mengatakan, kabinet baru ini terdiri dari jajaran teknokrat, sesuai dengan tuntutan para pedemo. "Ini adalah sebuah pemerintahan yang sesuai dengan aspirasi demonstran," ucap Diab, dilansir dari AFP.

    Ia menegaskan bahwa pemerintahannya akan berjuang memenuhi tuntutan pengunjuk rasa mengenai sistem peradilan independen, pengembalian uang negara yang telah digelapkan dan juga perang melawan korupsi.

    Dari 20 menteri baru di Lebanon, terdapat enam wanita. Salah satu dari mereka, Zeina Akar, menjadi menteri pertahanan wanita pertama di Lebanon. Kabinet baru Lebanon dijadwalkan menggelar pertemuan perdana pada Rabu ini.

    Jabatan Menteri Luar Negeri Lebanon, yang sebelumnya dipegang anak menantu presiden, diserahkan kepada diplomat ternama Nassif Hitti.

    Kabinet baru Lebanon diisi banyak tokoh baru, mayoritas dari mereka adalah akademisi dan mantan penasihat.  Namun para pengunjuk rasa masih bersikap skeptis, dan menilai jajaran 20 menteri hanya kamuflase elite politik Lebanon.

    Sekelompok demonstran berkumpul di sejumlah ruas jalan di Beirut sebelum pemerintah mengumumkan kabinet baru. Banyak dari mereka memblokade ruas jalan utama di jantung ibu kota tempat berlangsungnya bentrok yang telah melukai ratusan orang sepanjang akhir pekan kemarin.

    Total korban luka dalam bentrokan antar pedemo dan aparat keamanan di Lebanon pada Sabtu dan Minggu kemarin dilaporkan mencapai 460 orang.

    Pemerintah terakhir di Lebanon mengundurkan diri di bawah tekanan unjuk rasa pada 29 Oktober lalu. 
     
    Bank Dunia memperingatkan bahwa angka rata-rata kemiskinan di Lebanon dapat meningkat dari sepertiga ke separuh total populasi jika krisis politik saat ini tidak segera diselesaikan.



    (WIL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id