Dibalik Derita Pengungsi Suriah

    Desi Angriani - 28 Maret 2019 16:08 WIB
    Dibalik Derita Pengungsi Suriah
    Pengungsi Suriah yang berada di Yordania, hidup dalam serba kekurangan. (Foto: Desi Angriani/Medcom.id).
    Amman: Konflik Timur Tengah ibarat mimpi buruk bagi ratusan juta warga Suriah. Konflik yang tak berujung ini memaksa jutaan jiwa mengungsi demi mendapatkan suaka.

    Bertahun-tahun mereka menyeberang ke Lebanon, Yordania dan Turki. Namun, hampir tidak ada yang berani masuk ke negara-negara Teluk.

    Miffeh, 35, perempuan Suriah ini rela menempuh ratusan kilometer untuk mengungsi ke wilayah Adjlun, Yordania setelah nyawa sang suami terenggut. Ia bersama dua anak, satu adik dan orang tuanya pergi meninggalkan Suriah pada 2012 lalu.

    Beruntung Miffeh bersama 1,3 juta pengungsi Suriah lainnya diterima di Yordania. Bahkan selama tujuh tahun ini, Miffeh mendapatkan santunan sebesar 125 dinnar Jordan atau setara Rp2,5 juta per bulan dari Kerajaan Yordania. 

    Dibalik Derita Pengungsi Suriah
    Pengungsi Suriah yang bertahan hidup di Yordania. (Foto: Desi Angriani/Medcom.id).

    Meski demikian, uang tersebut tidak mencukupi untuk biaya sewa rumah dan keperluan hidup sehari-hari. Dia bilang biaya hidup di Yordania jauh lebih mahal dibandingkan Suriah. Ia pun tak bisa bekerja secara layak lantaran para pengungsi tidak memiliki kartu penduduk. Keadaan itu pula yang membuat Miffeh tak sanggup membiayai perawatan adiknya yang mengidap Hydro Sepalus. 

    "Suami saya meninggal dalam konflik itu, saya kedua anak dan satu adik bersama orangtua pindah ke Yordania. Kami dibantu tapi uangnya sangat tidak cukup bagi kami," ujarnya saat ditemui di kediamannya di Adjlun, Yordania, Rabu 28 Maret 2019.

    Potret kehidupan yang sama datang dari Ahmed, 75. Warga Suriah ini juga mengungsi ke Yordania sejak 2012 lalu bersama istri dan kedua anaknya. Bertahun-tahun Ahmed mengandalkan bantuan dari Kerajaan Yordania sembari bekerja serabutan.

    Bahkan salah seorang anaknya terpaksa putus sekolah karena biaya yang tidak mencukupi. "Memang tidak mencukupi tapi kami  senang bisa ditampung di sini. Dan anak saya harus berhenti kuliah di semester 5 karena kami tidak punya cukup uang," katanya kepada Medcom.id.

    Sementara itu, Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) KBRI Amman Ismi Rachmianto mengungkapkan kondisi pengungsi Suriah cukup memprihatinkan. Dari 1,3 juta pengungsi, sebagiannya masih menetap di tenda pengungsian. 

    Dibalik Derita Pengungsi Suriah
    Seorang pengungsi Suriah bersama Duta Besar RI untuk Yordania Andy Rachmianto. (Foto: Desi Angriani/Medcom.id).

    Kebanyakan dari mereka bahkan tidak memperhatikan kebutuhan alat sanitasi. Mereka lebih memilih membeli bahan pokok ketimbang sabun mandi, sikat gigi dan pasta gigi. 

    Karena itu, Ismi bersama sejumlah DWP dan Persatuan Pelajar Indonesia se Timur Tengah dan Afrika mengumpulkan bantuan berupa ratusan paket sembako, alat sanitasi dan ratusan pakaian musim dingin. Bantuan itu disalurkan melalui Kedutaan Besar Indonesia untuk Yordania dan Palestina. 

    "Kami memberikan bantuan ini juga dalam rangka mothers day, kita siapkan 150 paket sembako dan 150 paket sanitasi. Mereka memang ditampung dan diberi uang bulanan 125 Dinnar Jordan tapi itu tidak mencukupi karena biaya hidup di sini lebih mahal dari Suriah," ungkap Ismi.



    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id