Pilot Berpengalaman Gagal Cegah Jatuhnya Ethiopian Airlines

    Arpan Rahman - 12 Maret 2019 06:42 WIB
    Pilot Berpengalaman Gagal Cegah Jatuhnya Ethiopian Airlines
    Penyelidikan dilakukan terhadap jatuhnya pesawat Ethiopian Airlines pada Minggu 10 Maret 2019. (Foto: AFP).
    Nairobi: Otoritas penerbangan mulai menyelidiki bagaimana sebuah pesawat Boeing baru dikendalikan pilot berpengalaman jatuh beberapa menit setelah lepas landas dari Addis Ababa pada Minggu. Semua 157 orang di dalamnya tewas.

    Baca juga: Perekam Data Penerbangan Ethiopian Airlines Ditemukan.

    Penerbangan maut Ethiopian Airlines ET 302, yang sedang dalam perjalanan ke Nairobi, menjadi bencana kedua yang melibatkan Boeing 737 MAX 8, model baru yang mengalami kecelakaan serupa di Indonesia pada Oktober.

    Pilot mengaku alami masalah teknis dan meminta untuk kembali ke bandara. Menara kendali kehilangan kontak dengan pesawat pada pukul 8.44 pagi. Puing-puing kemudian ditemukan di dekat kota Bishoftu, 62 km di tenggara ibu kota Ethiopia.

    Situs web pelacakan penerbangan Flightradar24 menyebar tweet bahwa pesawat itu memiliki kecepatan vertikal tidak stabil setelah lepas landas.

    Penyebab kecelakaan belum diketahui. Kepala eksekutif Ethiopian Airlines, Tewolde GebreMariam, mengatakan unit pemeliharaan rutin tidak mengungkapkan masalah dengan pesawat itu. Sementara kapten pilot Yared Getachew sudah terbang lebih dari 8.000 jam dengan "catatan terbang yang sangat baik". Maskapai ini menerima pengiriman pesawat pada November.

    "Seperti yang saya katakan, ini adalah pesawat baru tanpa masalah teknis, diterbangkan oleh pilot senior dan tidak ada alasan bahwa kita dapat petunjuk pada saat ini," katanya kepada wartawan, seperti disiarkan dari laman Guardian, Senin 11 Maret 2019.

    Pertanyaan telah merebak tentang keamanan Boeing 737 MAX 8, yang beroperasi secara komersial sejak 2016. Model yang sama mengalami kecelakaan Lion Air, di mana jet itu jatuh ke Laut Jawa segera sesudah lepas landas tahun lalu, menewaskan 189 orang.

    Ada lebih dari 300 pesawat ini beroperasi dengan berbagai maskapai. Ethiopia memiliki enam yang baru. Ditanya apakah mereka akan dihukum, GebreMariam berkata tidak karena "kami belum tahu penyebab kecelakaan".

    Beberapa maskapai penerbangan di seluruh dunia menerbangkan 737 MAX 8. Pada Minggu malam, laporan menyebutkan Tiongkok telah meminta maskapai lokalnya untuk sementara tidak menerbangkan pesawat.

    Dalam sebuah pernyataan, maskapai mengatakan akan melakukan investigasi forensik bersama pejabat dari Boeing, otoritas penerbangan sipil Ethiopia, otoritas transportasi Ethiopia, dan badan internasional lainnya. Di bawah aturan internasional, tanggung jawab untuk memimpin investigasi kecelakaan terletak pada Ethiopia. Tetapi Dewan Keselamatan Transportasi Nasional Amerika Serikat (NTSB) juga akan berpartisipasi karena pesawat itu dirancang dan dibangun di AS.

    Perwakilan dari Boeing dan CFM pembuat mesin yang berbasis di Cincinnati, unit patungan antara General Electric dan perusahaan Prancis Safran, akan memberi saran kepada NTSB. Pesawat itu hancur berkeping-keping dan terbakar parah, kata seorang wartawan di lokasi kecelakaan. Pakaian dan barang-barang pribadi terserak di atas lapangan tempat pesawat itu jatuh.

    Seorang saksi mata bertutur kepada AFP bahwa pesawat itu terbakar. "Pesawat itu sudah terbakar ketika jatuh ke tanah. Kecelakaan itu menyebabkan ledakan besar," kata Tegegn Dechasa di lokasi kejadian. "Saya berada di dekat sungai dekat lokasi kecelakaan. Tak lama setelah polisi tabrakan dan kru pemadam dari kamp angkatan udara terdekat datang dan memadamkan api pesawat di tanah," ungkapnya.

    Dia tambahkan: "Pesawat itu terbakar di sisi belakangnya sesaat sebelum kecelakaan. Pesawat itu berbelok tidak terarah sebelum kecelakaan," sambung dia.

    Baca juga: Tragedi Ethiopia, Tiongkok Tangguhkan Boeing 737 Max 8.

    Penyebab kecelakaan sebelumnya yang melibatkan Boeing 737 MAX 8 di Indonesia masih dalam penyelidikan. Laporan pendahuluan berfokus pada pemeliharaan dan pelatihan maskapai penerbangan, serta respons sistem anti-stall Boeing terhadap sensor yang baru saja diganti, tetapi tidak ada alasan atas kecelakaan. Sejak itu, perekam suara kokpit telah diperbaiki dan laporan akhir akan dirilis akhir tahun ini.

    Ethiopian Airlines milik negara adalah salah satu maskapai penerbangan terbesar di Afrika berdasarkan ukuran armada. Dikatakan sebelumnya bahwa pihaknya diperkirakan mengangkut 10,6 juta penumpang tahun lalu. Kecelakaan besar terakhirnya pada Januari 2010, ketika penerbangan dari Beirut jatuh tak lama setelah lepas landas.

    Maskapai ini sedang melakukan ekspansi, bertujuan buat menggandakan armadanya menjadi 120 dan menjelma maskapai terbesar di Afrika pada 2025. Maskapai ini sukses melipatgandakan jumlah penumpangnya selama dekade terakhir. Terminal baru dibuka di Bole, tiga kali lipat ukuran bandara asli.



    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id