Lebanon Peringatkan Eropa akan Gelombang Pengungsi Suriah Baru

    Arpan Rahman - 28 Maret 2019 19:06 WIB
    Lebanon Peringatkan Eropa akan Gelombang Pengungsi Suriah Baru
    Anak-anak Suriah harus bertahan di tempat penampungan yang berada di berbagai negara. (Foto: AFP).
    Beirut: Eropa mungkin menghadapi krisis pengungsi baru lagi jika ekonomi Lebanon tidak kunjung membaik, demikian presiden negara itu memperingatkan.

    Lebih dari 1,5 juta warga Suriah saat ini mencari perlindungan di Lebanon, menjadikannya hunian bagi konsentrasi tertinggi pengungsi per kapita di mana pun di dunia.

    Presiden Lebanon Michel Aoun berkata pada Selasa bahwa "gelombang" pengungsi dapat segera kembali menuju ke Eropa.

    "Eropa secara langsung tertarik untuk menyelesaikan situasi, karena para pengungsi Suriah yang tinggal di Lebanon tidak puas dengan situasi ekonomi di negara ini, dan gelombang imigran baru ke Eropa akan segera dimulai," kata Aoun pada Selasa dalam perjalanan ke Moskow untuk membahas krisis, menurut kantor berita Rusia TASS.

    Kehadiran pengungsi Suriah membelah Lebanon selama delapan tahun terakhir, mencerminkan perpecahan politik negara itu atas perang saudara Suriah.

    Banyak yang khawatir pemukiman jangka panjang dari sejumlah besar warga Suriah akan mengganggu keseimbangan sektarian di negara itu, di mana kekuasaan terbagi di antara beberapa aliran keagamaannya.

    Tetapi dampak ekonomi dari krisis pengungsi mulai menjadi masalah yang lebih mendesak karena prospek keuangan negara sudah memburuk.

    Beberapa tahun terakhir, berbagai masalah ekonomi yang mendahului krisis Suriah menjadi lebih memberat. Di antaranya pengangguran muda, inflasi, dan salah satu rasio utang terhadap PDB tertinggi di dunia. Pada Januari, agensi pemeringkat Moody menurunkan peringkat kreditnya untuk Lebanon, menjadikannya setara Gabon, Zambia, Irak, dan Ukraina.

    Stagnasi politik yang terpuruk telah menghambat kemajuan dalam masalah ini, tetapi beberapa kalangan mengatakan politisi mengungkit pengungsi Suriah sebagai kambing hitam untuk persoalan negara.

    Komentar Aoun muncul saat pemerintah Lebanon meningkatkan tekanan atas pengungsi Suriah agar dipulangkan, meskipun PBB menyatakan Suriah belum aman.

    Dalam beberapa tahun terakhir, hampir tidak mungkin bagi warga Suriah bekerja secara legal dan membebani biaya memperbarui dokumen domisili mereka. Lebih dari separuh pengungsi Suriah di Lebanon hidup dalam kemiskinan, di mana para keluarga bertahan hidup dengan kurang dari USD3 sehari.

    Sekitar 170.000 pengungsi Suriah kembali dari Lebanon sejak Desember 2017, menurut pihak berwenang Lebanon. Tetapi para aktivis mengatakan bahwa ratusan orang ditangkap pemerintah saat mereka kembali, lalu lenyap dalam sistem penjara mematikan.

    Jumlah yang jauh lebih kecil sudah menuju ke arah lain, ke Eropa. Badan pengungsi PBB memukimkan kembali 37.079 pengungsi Suriah di negara-negara Eropa sejak 2011. Dan selama setahun terakhir, sejumlah kelompok kecil berupaya mencapai Eropa secara ilegal dengan kapal. Pada September 2018, sebuah kapal yang membawa 40 pengungsi Suriah tenggelam di pantai Lebanon saat menuju ke Siprus. 

    Namun sejauh ini tidak ada indikasi bahwa warga Suriah akan, atau bisa, pergi secara massal ke Eropa.

    "Terlepas kemiskinan mendalam yang dihadapi para pengungsi Suriah, kenyataannya mayoritas kemungkinan akan tetap berada di Lebanon dan menghadapi kesulitan yang lebih besar di masa mendatang," kata Matias Meier, direktur Komite Penyelamatan Internasional di Lebanon, seperti disitat dari laman Independent, Kamis, 28 Maret 2019.

    PBB memperkirakan sekitar 250.000 warga Suriah dapat pulang dari seluruh wilayah tahun ini. Negara-negara Barat telah menahan dukungan bagi langkah ini sebelum solusi diplomatik yang lebih luas untuk konflik. Komentar Aoun dapat ditujukan untuk menekan negara-negara Eropa untuk mempertimbangkan kembali posisi tersebut.

    Dr Carmen Geha, asisten profesor administrasi publik di American University of Beirut, berkata bahwa presiden "mengingatkan dunia bahwa Lebanon membawa beban besar. Ini adalah strategi untuk mengembalikan Lebanon diperhitungkan."

    Meskipun ada tekanan untuk pemulangan imigran, beragam kelompok HAM terus mendesak agar berhati-hati. "Syaratnya tentu tidak kondusif untuk kembali," cetus Leen Hashem, juru kampanye Suriah untuk Amnesty International.

    "Konflik belum berakhir di bagian-bagian tertentu Suriah, infrastruktur sudah rusak dalam skala besar. Pelanggaran HAM terus dilakukan pemerintah dan berbagai kelompok oposisi bersenjata -- tetapi terutama pemerintah -- seperti penahanan sewenang-wenang dan penghilangan paksa," pungkasnya.



    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id