Iran Kutuk Serangan Udara Koalisi Arab Saudi di Yaman

    Fajar Nugraha - 17 Mei 2019 18:06 WIB
    Iran Kutuk Serangan Udara Koalisi Arab Saudi di Yaman
    Warga Yaman yang harus berlindung dari serangan udara pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi. (Foto: AFP).
    Teheran: Iran mengutuk serangan udara pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi ke Yaman. Serangan itu dinilai Iran sebagai kejahatan.

    Baca juga: Anak-anak Tewas dalam Serangan Koalisi Saudi di Yaman.
    Gelombang serangan udara yang dipimpin oleh Arab Saudi di daerah-daerah yang dikuasai pemberontak di Yaman.

    Serangan Kamis mengikuti serangan pesawat tak berawak pemberontak Houthi yang menutup salah satu pipa minyak utama Kerajaan Arab Saudi awal pekan ini. Arab Saudi pun mengatakan serangan itu dilakukan atas perintah Teheran.

    "Kami menyerukan kepada masyarakat internasional dan kelompok-kelompok hak asasi manusia untuk menindaklanjuti komitmen mereka dan menghentikan kejahatan seperti itu terjadi lagi dengan cara apa pun yang mungkin," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Seyed Abbas Mousavi, seperti dikutip AFP, Jumat, 17 Mei 2019.

    "Negara-negara yang mendukung pasukan agresor di Yaman dengan menyediakan senjata dan bom kepada koalisi memiliki tanggung jawab bersama atas kejahatan ini dan harus dimintai pertanggungjawaban," tambahnya dalam sebuah pernyataan di Telegram.

    Mousavi tidak berkomentar tentang dugaan Riyadh bahwa Teheran berada di belakang serangan Pemberontak Houthi terhadap pipa Arab Saudi, pada Selasa 14 Mei lalu.

    Kelompok bantuan Dokter Tanpa Batas (MSF) mengatakan bahwa setidaknya empat orang tewas dan 48 lainnya luka-luka dalam serangan udara koalisi di ibu kota Yaman yang dikuasai pemberontak Sanaa pada Kamis.

    Salah satu organisasi PBB, Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (OCHA)
    mengatakan bahwa lima anak telah tewas dan 16 lainnya cedera dalam serangan itu.

    Koalisi Arab Saudi campur tangan di Yaman pada Maret 2015 ketika Presiden Abedrabbo Mansour Hadi melarikan diri ke pengasingan Negeri Petro Dolar ketika para pemberontak siap untuk mengambil pijakan terakhirnya Aden setelah menduduki sebagian besar sisa negara.

    Kampanye udara di daerah-daerah yang dikuasai pemberontak telah berulang kali dikritik oleh PBB dan kelompok hak asasi manusia karena tingginya angka kematian warga sipil.



    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id