Menlu Iran: Targetkan Warga Sipil, AS Lakukan Terorisme

    Sonya Michaella - 06 September 2019 13:12 WIB
    Menlu Iran: Targetkan Warga Sipil, AS Lakukan Terorisme
    Menlu Iran Javad Zarif melakukan kunjungan ke Indonesia, 6 September 2019. Foto: Medcom.id/Sonya Michaella
    Jakarta: Berkunjung ke Indonesia dan diterima Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi, kesepakatan nuklir Iran menjadi salah satu bahasan Menteri Luar Negeri Javad Zarif. Ia juga sempat mengecam Amerika Serikat (AS) yang memberikan banyak sanksi.

    “Saya telah jelaskan kepada Retno bahwa Iran telah berusaha menjaga kesepakatan ini dan meneruskan sesuai amanat yang merupakan pencapaian diplomasi,” kata Zarif, di Kementerian Luar Negeri RI, Jakarta, Jumat 6 September 2019.

    Apa yang telah Iran lakukan selama ini, lanjut dia, telah dijelaskan di paragraf 36 dari perjanjian kesepakatan tersebut. Zarif menyebut langkah-langkah itu diambil setelah AS menetapkan sanksi-sanksi yang juga menargetkan ekonomi warga Iran.

    “Presiden Trump menyebut mereka perang dengan kami. Namun kami menyebut mereka melakukan ‘terorisme’ karena mereka menargetkan warga sipil Iran,” turur Zarif lagi.

    Zarif juga menyebut bahwa Eropa gagal untuk melaksanakan penawaran dengan AS untuk tetap melaksanakan kesepakatan nuklir tersebut. Meski demikian, ia menegaskan bahwa Iran akan melunak jika AS juga kembali mematuhi kesepakatan tersebut.

    “Kami telah mengatakan berulang kali bahwa begitu mereka kembali mematuhi, kami siap untuk kembali berdialog dalam kesepakatan. Kami ingin Indonesia juga mendorong yang terlibat kesepakatan untuk menerapkan penuh JCPOA,” tegas Zarif.

    Selain itu, lanjut dia, Resolusi Dewan Keamanan PBB 2331 yang bertumpu pada dua premis terkait program nuklir Iran yang merujuk agar program nuklir ini tetap damai serta menormalisasi hubungan ekonomi dengan Iran.

    “Sayangnya, AS tidak segera menormalkan hubungan ekonominya sendiri dengan Iran tetapi juga ‘menghukum’ negara lain karena memiliki kerja sama dengan Iran,” ungkapnya.

    JCPOA adalah kesepakatan terkait nuklir Iran yang dibentuk di Wina pada 14 Juli 2015 antara Iran dan lima negara anggota tetap DK PBB dan satu negara yaitu Amerka Serikat, Tiongkok, Rusia, Inggris, Prancis dan Jerman. 

    Namun, pada Mei 2018, Amerika Serikat memutuskan keluar dari kesepakatan nuklir Iran dengan alasan kesepakatan tersebut adalah bencana bagi AS yang dianggap tak melakukan apapun untuk menahan nuklir Iran.

    Presiden AS Donald Trump juga menyebut bahwa kesepakatan nuklir Iran, cacat. Perjanjian yang akan berakhir pada 2030 ini memungkinan Iran akan terus mengembangkan program nuklir dan akan memicu perlombaan senjata nuklir di Timur Tengah.

    Tahun ini, Iran mengumumkan akan mengurangi komitmennya berdasarkan kesepakatan. Bahkan, Iran akan meningkatkan pengayaan uranium melebihi batas kesepakatan yang telah ditandatangani pada 2015. Meski demikian, Iran melanjutkan penggunaan uranium untuk pembangkit energi.



    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id