Iran Bertekad Jatuhkan Donald Trump pada Pilpres 2020

    Arpan Rahman - 20 September 2019 15:57 WIB
    Iran Bertekad Jatuhkan Donald Trump pada Pilpres 2020
    Iran berniat untuk jatuhkan Donald Trump. Foto: AFP
    Teheran: Iran bertekad akan menjatuhkan Donald Trump dalam pemilihan tahun depan ‘seperti yang terjadi pada Jimmy Carter’ setelah krisis sandera 1980.

    Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat berada pada titik didih setelah milisi didukung Iran disalahkan atas serangan terhadap ladang minyak Arab Saudi pada Sabtu.

    Kantor Berita FARS, berafiliasi dengan Garda Revolusi Iran, mengatakan rezim ingin memastikan bahwa Presiden AS Trump tidak memenangkan masa jabatan kedua.

    "Iran menjatuhkan Jimmy Carter dan akan menjatuhkan Donald Trump dalam pilpres 2020,” sebut FARS, seperti dikutip AFP, Jumat 20 September 2019.

    “Serangan ladang minyak ‘mungkin diikuti’ serangan ke infrastruktur Arab Saudi termasuk air dan pembangkit listrik,” tulis FARS,  meskipun Teheran awalnya menyangkal keterlibatan dalam serangan pesawat tak berawak.

    Krisis sandera Iran berlangsung selama 444 hari dan memberi kontribusi besar kepada Presiden AS Carter yang kalah dalam pilpres 1980. Peristiwa ini melibatkan 52 diplomat Amerika yang ditawan di Teheran pada hari-hari setelah revolusi Iran 1979 di mana Mohammad Reza Shah Pahlavi yang didukung AS digulingkan.

    Upaya Carter gagal menyelamatkan para sandera, dibarengi dengan perekonomian yang sedang kesulitan saat itu, menciptakan wacana bahwa ia adalah pemimpin lemah dan masa jabatannya di Gedung Putih menjadi sebuah bencana.

    Tambah menyakitkan, Iran membebaskan para sandera pada 20 Januari 1981 -- hari yang sama persis ketika penggantinya Ronald Reagan menjadi Presiden AS.

    Laporan ini muncul ketika Menteri Luar Negeri Iran Mohammed Javad Zarif berkata setiap serangan militer AS atau Saudi terhadap Teheran akan membawa ‘perang habis-habisan’.

    Washington telah berdiskusi dengan Arab Saudi dan sekutu Teluk lainnya tentang kemungkinan balasan terhadap serangan itu -- yang dijelaskan oleh Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo sebagai aksi perang.

    "Saya membuat pernyataan yang sangat serius bahwa kami tidak menginginkan perang; kami tidak ingin terlibat dalam konfrontasi militer. Tetapi kami tidak akan lengah untuk mempertahankan wilayah kami," kata Zarif kepada CNN.

    Zarif sebelumnya di Twitter memperingatkan bahwa para seteru kawasan termasuk Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed Bin Salman mengecoh Presiden AS Donald Trump ke dalam perang.

    Sementara itu, seorang penasihat senior otoritas tertinggi Iran Pemimpin Tertinggi Ayatullah Ali Khamenei meminta negara-negara Teluk untuk "menyadarinya”.

    "Mereka (AS dan Arab Saudi) telah menyadari bahwa bermain dengan seekor singa sangat berbahaya dan bahwa jika mereka mengambil tindakan terhadap Iran kapan saja, mereka tahu tidak akan ada hari esok bagi mereka di kawasan ini," kata FARS mengutip Hossein Dehghan.

    Arab Saudi memimpin koalisi Arab Sunni melawan Houthi di negara miskin ujung semenanjung Arab -- bagian dari perang proksi regional antara Teheran dan Riyadh di seantero Timur Tengah. Iran membantah terlibat dalam serangan itu, yang diklaim oleh kelompok Houthi pihak Iran di Yaman.

    "Mereka menuduh Iran karena mereka tidak percaya negara Yaman yang tertindas telah mencapai kemajuan seperti itu," kata Juru Bicara Kemenlu Iran, Abbas Mousavi, dilaporkan kantor berita negara IRNA.



    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id