Menyusup saat Protes, Iran Tangkap 8 Orang Diduga CIA

    Fajar Nugraha - 28 November 2019 16:05 WIB
    Menyusup saat Protes, Iran Tangkap 8 Orang Diduga CIA
    Warga Iran yang melakukan protes kenaikan harga BBM. Foto: AFP
    Teheran: Iran dikabarkan menangkap delapan orang yang dituduh memiliki hubungan dengan CIA dan mengumpulkan informasi untuk dikirim ke luar negeri. Delapan orang itu diduga melakukan aksinya  selama kerusuhan yang terjadi saat demonstrasi warga menentang kenaikan harga bahan bakar minyak.

    Pemadaman internet hampir total dilakukan oleh republik Islam pada 16 November, sehari setelah itu membuat pengumuman mengejutkan bahwa harga bensin segera naik sebanyak 200 persen.

    Laporan kematian dan penangkapan muncul ketika pasukan keamanan dikerahkan untuk mengendalikan demonstrasi yang berubah menjadi kekerasan di beberapa daerah, dengan puluhan bank, pompa bensin dan kantor polisi dibakar.

    Human Rights Watch yang bermarkas di New York menuduh Teheran ‘dengan sengaja menutupi’ lebih dari 100 kematian dan ribuan penangkapan selama penumpasan itu.

    Para pejabat di Iran telah mengkonfirmasi lima orang terbunuh dan sejauh ini mengumumkan sekitar 500 penangkapan, termasuk sekitar 180 ‘pemimpin kelompok’.

    Tetapi Amnesty International mengatakan pada Senin bahwa setidaknya 143 demonstran telah terbunuh sejak 15 November dalam penumpasan tersebut.

    “Yang terakhir ditahan di Iran adalah delapan orang ‘terkait dengan CIA’ selama kerusuhan baru-baru ini", kantor berita negara IRNA mengatakan Rabu, yang dikutip AFP, Kamis, 28 November 2019.

    "Beberapa elemen yang mencoba mengumpulkan informasi tentang kerusuhan baru-baru ini dan mengirim mereka ke luar negeri, diidentifikasi dan ditangkap," katanya mengutip pernyataan direktur jenderal departemen kontra-spionase kementerian intelijen.

    “Enam dari mereka diduga menghadiri kerusuhan dan melaksanakan perintah," lapor IRNA, tanpa menyebut nama pejabat itu.

    Dua lainnya yang dituduh berusaha mengumpulkan informasi dan mentransfernya ke luar negeri ditangkap sebelum mereka bisa meninggalkan negara itu. Mereka semua "dilatih di berbagai negara tentang cara mengumpulkan informasi sebagai warga negara-jurnalis," tambah IRNA.

    Sedangkan Amerika Serikat, mengatakan bahwa pihaknya telah menerima ribuan pesan dari republik Islam tentang protes, termasuk foto dan video, setelah mengeluarkan permohonan bagi orang-orang untuk menentang pembatasan internet.

    "Kami telah menerima hingga saat ini hampir 20.000 pesan, video, gambar, catatan pelanggaran rezim melalui layanan pesan Telegram," kata Menteri Luar Negeri Mike Pompeo, merujuk pada aplikasi terenkripsi.


    Konspirasi berbahaya


    Kerusuhan, dipicu oleh kenaikan tajam harga bensin, terjadi setelah satu setengah tahun sanksi menggigit diberlakukan kembali oleh Presiden Donald Trump yang bertujuan mengandung peran regional Iran.

    Sanksi tersebut mengikuti keputusan Trump pada Mei 2018 untuk secara sepihak menarik Amerika Serikat dari perjanjian internasional tentang program nuklir Iran.

    Iran telah menyalahkan kerusuhan pada ‘preman’ yang didukung oleh musuh-musuh asingnya, termasuk Amerika Serikat, Israel dan Mujahidin Rakyat Iran, kelompok oposisi bersenjata di pengasingan yang dianggapnya sekte ‘teroris’.

    Pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei pada Rabu mengatakan negaranya yang terkena sanksi telah menggagalkan plot ‘sangat berbahaya’.

    "Orang-orang menggagalkan konspirasi yang dalam, luas, dan sangat berbahaya yang menghabiskan banyak uang untuk penghancuran, kejahatan dan pembunuhan orang," pungkas Khamenei seperti dikutip di televisi pemerintah.



    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id