Hilang dari Radar, Kapal Tanker Minyak Diduga Dirampas Iran

    Arpan Rahman - 17 Juli 2019 17:03 WIB
    Hilang dari Radar, Kapal Tanker Minyak Diduga Dirampas Iran
    Ilustrasi oleh Medcom.id.
    Teheran: Iran mungkin telah menangkap sebuah kapal tanker minyak kecil yang melakukan pelayaran melintasi Selat Hormuz. Alat pelacak diketahui terhenti mentransmisikan lokasi kapal itu, seorang pejabat Amerika Serikat mengatakan.

    Kapal Riah berbendera Panama berada di perairan teritorial Iran dekat Pulau Qeshm, yang merupakan basis pangkalan Garda Revolusi.

    "Kami tentu memiliki kecurigaan bahwa kapal itu dirampas," kata pejabat pertahanan Amerika Serikat, dilansir dari Sky News, Rabu 17 Juli 2019.

    Riah sedang berlayar dari Uni Emirat Arab (UEA), meskipun seorang pejabat UEA mengatakan kapal itu bukan milik UEA atau dioperasikan mereka dan tidak memiliki personel Emirat di dalamnya.

    "Kapal tidak mengeluarkan panggilan darurat. Kami sedang memantau situasi dengan mitra internasional kami", kata pejabat UEA.

    Seorang juru bicara Armada Kelima AS, yang berbasis di Teluk, mengatakan mereka mengetahui laporan tentang kapal tanker tersebut.

    Misteri seputar Riah muncul hampir sepekan setelah kapal perang Angkatan Laut Kerajaan Inggris dipaksa campur tangan menyusul tiga kapal perang Iran berupaya memblokir sebagian dari kapal tanker berbendera Inggris di Selat Hormuz. HMS Montrose mampu membuat kapal perang Iran menjauh tanpa tembakan.

    Fregat Type-23 memberikan perlindungan tambahan kepada British Heritage, sebuah kapal tanker milik British Petroleum, menyusul ancaman Iran untuk merebut kapal-kapal Inggris setelah Royal Marine membantu dalam penahanan sebuah kapal tanker Iran di lepas pantai Gibraltar.

    Sejak itu Inggris mengatakan akan memfasilitasi pembebasan kapal tanker Grace 1 jika Iran memberi jaminan bahwa kapal itu tidak akan melakukan perjalanan ke Suriah membawa minyak yang melanggar sanksi Uni Eropa.

    Namun, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei berkata pada Selasa negaranya akan membalas perampasan atas supertanker yang membawa 2,1 juta barel minyak mentah ringan. Sembari menuduh Inggris melakukan tindakan "pembajakan".

    "Insya Allah, Republik Islam dan pasukannya yang berkomitmen tidak akan meninggalkan kejahatan ini tanpa tanggapan," katanya.

    Ancaman yang meningkat telah mendorong Inggris untuk memperkuat kehadiran angkatan lautnya di Teluk Arab. Tingkat ancaman terhadap kapal-kapal komersial berbendera Inggris di Teluk juga sudah dinaikkan ke level tertinggi. Kapal-kapal didesak agar menjauhi perairan Iran.

    Iran belum mengomentari soal kapal tanker Riah. Sejumlah kapal tanker minyak telah menjadi sasaran serangan ranjau limpet selama dua bulan terakhir, yang disalahkan oleh AS atas Iran. Teheran membantah tuduhan itu.

    Ketegangan di Teluk merupakan bagian dari kebuntuan antara AS dan Iran terkait kesepakatan nuklir antara kedua negara dan kekuatan dunia lainnya.

    Presiden Donald Trump menarik Washington dari kesepakatan tahun lalu dan memberlakukan kembali sanksi terhadap Teheran. Tetapi para penandatangan lainnya, termasuk Inggris, Prancis dan Jerman, berusaha untuk mengutuhkan perjanjian.

    Belakangan menjadi semakin sulit karena Iran mulai melampaui batas produksi dan pengayaan uranium yang melanggar komitmennya berdasarkan kesepakatan.

    Iran telah mengancam untuk membatalkan semua perjanjian kecuali negara-negara Eropa melindungi Iran dari dampak ekonomi akibat tindakan AS.

    Riah, sebuah kapal tanker minyak berukuran 58 meter, biasanya berlayar dari Dubai dan Sharjah di pantai barat UEA sebelum melewati selat dan menuju Fujairah di pantai timur UEA.

    Namun, sesuatu terjadi pada kapal setelah pukul 23:00 waktu setempat pada Sabtu, menurut data pelacakan.

    Giorgos Beleris, dari perusahaan pelacak Refinitiv, berkata kepada Sky News bahwa mereka secara konsisten mengirimkan sinyal selama tiga bulan terakhir.

    "Fakta bahwa dia menghilang membuatnya sangat menarik," katanya.

    Pemilik kapal tanker juga merupakan misteri. Pemilik terdaftar kapal itu, Prime Tankers LLC, yang berbasis di Dubai, mengatakan bahwa mereka telah menjual kapal ke perusahaan lain bernama Mouj Al-Bahar. Seorang pria yang menjawab nomor telepon yang terdaftar di perusahaan mengatakan bahwa ia bukan pemilik kapal.



    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id