Lebih dari 100 Warga Mali Dibunuh Kelompok Bersenjata

    Willy Haryono - 24 Maret 2019 10:30 WIB
    Lebih dari 100 Warga Mali Dibunuh Kelompok Bersenjata
    Etnis Fulani sedang menggembala hewan ternak di Bore, Mali, 2 Maret 2013. (Foto: AFP/Joel Saget)
    Ogosssagou: Lebih dari 100 orang tewas dalam serangan ke sebuah desa di Mali wilayah pusat. Serangan dilancarkan kelompok bersenjata yang mengenakan pakaian tradisional pemburu Dogon.

    Seorang pejabat pemerintah daerah mengatakan kelompok bersenjata mengepung desa Ogossagou dan menyerang hampir semua warga yang saat itu sedang berada di rumah mereka masing-masing.

    Etnis Fulani dikabarkan menjadi target utama dalam serangan yang terjadi pada Sabtu 23 Maret 2019 itu. Serangan terjadi saat sejumlah duta besar untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa sedang berkumpul di Mali untuk membicarakan meningkatnya aksi kekerasan komunal.

    "Para korban dibunuh dengan senjata api dan golok," kata seorang petugas keamanan kepada kantor berita AFP. Cheick Harouna Sankare, Wali Kota Ouenkoro yang merupakan tetangga Ogossagou, menyebut serangan tersebut sebagai sebuah "pembantaian."

    Selama ini, bentrokan antara Dogon dan Fulani di Mali terjadi dari waktu ke waktu. Pertempuran biasanya dipicu masalah lahan, perairan atau hewan ternak.

    Dogon juga menganggap Fulani memiliki keterkaitan dengan sejumlah grup ekstremis. Sementara Fulani mengklaim militer Mali telah mempersenjatai Dogon untuk menyerang mereka.

    Tahun lalu, ratusan orang tewas dalam pertempuran antara Dogon dan etnik grup Fula.

    Jumat 22 Maret lalu, sebuah grup ekstremis di Mali yang terafiliasi al-Qaeda mengaku telah menyerang sebuah markas militer pekan lalu. Serangan tersebut menewaskan lebih dari 20 tentara Mali.

    Grup tersebut mengaku menyerang markas militer sebagai balasan atas aksi kekerasan yang diderita etnis Fulani.

    Awal tahun ini, 37 warga sipil tewas saat sekelompok pria bersenjata yang diyakini sebagai Dogon menyerang sebuah desa di Mali.

    Prancis telah membantu pasukan Mali dalam menghadapi pemberontakan di wilayah utara yang terjadi sejak 2012. Sejak kematian tokoh Fulani Amadou Koufa pada November lalu, intensitas konflik antar grup dan etnis di Mali meningkat.
     
    Kekerasan diperparah tuduhan bahwa Fulani membiarkan hewan ternak mereka merumput di tanah Dogon. Perserikatan Bangsa-Bangsa mencatat lebih dari 500 warga sipil tewas dalam bentrok Dogon dan Fulani sepanjang 2018.

    Baca: Kelompok Bersenjata Serang Misi PBB di Mali, 7 Tewas


    (WIL)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id