Presiden Iran Tuduh AS Berbohong Terkait Tawaran Negosiasi

    Fajar Nugraha - 25 Juni 2019 17:06 WIB
    Presiden Iran Tuduh AS Berbohong Terkait Tawaran Negosiasi
    Presiden Iran Hassan Rouhani sebut Amerika Serikat berbohong terkait negosiasi. (Foto: AFP).
    Teheran: Presiden Iran Hassan Rouhani mengatakan bahwa sanksi baru Amerika Serikat (AS) terhadap pejabat senior Iran termasuk Menteri Luar Negeri Mohammad Javad Zarif menunjukkan Washington berbohong tentang tawaran untuk bernegosiasi.

    Baca juga: Sanksi Baru AS Targetkan Pemimpin Tertinggi Iran.

    "Pada saat yang sama ketika Anda menyerukan negosiasi, Anda berusaha menjatuhkan sanksi? Jelas bahwa Anda berbohong," kata Rouhani dalam pertemuan dengan para menteri yang disiarkan langsung di TV.

    Komentarnya muncul setelah Penasihat Keamanan Nasional AS John Bolton mengatakan Washington telah "membuka pintu bagi negosiasi nyata.”

    Rouhani juga mempertanyakan logika AS dalam memasukkan daftar nama pemimpin tertinggi Ayatullah Ali Khamenei ke daftar hitam. Hal itu itu menunjukkan bahwa Washington "bingung."

    "Aset pemimpin adalah Hosseiniye (tempat ibadah Syiah) dan rumah sederhana. Para pemimpin kami tidak seperti para pemimpin negara lain yang memiliki miliaran rekening di luar negeri sehingga Anda dapat memberikan sanksi, merampas atau memblokirnya," kata Rouhani, seperti dikutip AFP, Selasa, 25 Juni 2019.

    "Memberi sanksi padanya untuk apa? Tidak bepergian ke Amerika? Itu lucu,” tegasnya.

    Trump memberlakukan sanksi baru Senin terhadap pemimpin tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei dan para panglima militer tinggi, yang semakin meningkatkan pertaruhan dalam peningkatan konflik regional.

    Kementerian Keuangan AS mengatakan akan juga memasukkan daftar hitam Menteri Luar Negeri Iran Zarif dan delapan komandan utama dari Pengawal Revolusi Iran. Iran dan AS memutuskan hubungan diplomatik pada 1980 karena krisis sandera di kedutaan besar AS di Teheran setelah revolusi Islam Iran.

    Ketegangan terakhir terjadi setahun setelah Trump secara sepihak menarik diri dari pakta multilateral dengan Iran atas program nuklirnya. Rouhani mencatat bahwa ada peluang untuk melakukan pembicaraan dengan AS.

    Baca juga: Iran Sebut AS Tidak Bisa Berdiplomasi.

    Zarif bertemu beberapa kali dengan mantan menteri luar negeri AS Rex Tillerson sebelum Washington secara sepihak menarik diri dari kesepakatan nuklir pada Mei 2018 dan menerapkan kembali sanksi terhadap Iran.

    Menlu Zarif, seorang moderat politik, adalah arsitek utama dari perjanjian di mana Iran setuju untuk mengekang program nuklirnya dengan imbalan bantuan sanksi. Namun dia dan Rouhani menuduh Washington mengobarkan ‘perang ekonomi’ terhadap Iran sejak menarik diri dari perjanjian itu.

    Teheran telah mengancam untuk mengurangi beberapa komitmennya di bawah kesepakatan kecuali pihak-pihak internasional yang tersisa - Inggris, Tiongkok, Prancis, Rusia dan Jerman - membantunya menghindari sanksi AS, terutama melalui ekspor minyak vital.



    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id