Puluhan Ribu Warga Aljazair Menentang Presiden Bouteflika

    Arpan Rahman - 02 Maret 2019 14:52 WIB
    Puluhan Ribu Warga Aljazair Menentang Presiden Bouteflika
    Ribuan orang berunjuk rasa menentang Presiden Abdelaziz Bouteflika di kota Annaba, Aljazair, 1 Maret 2019. (Foto: AFP/STR)
    Aljir: Kepolisian Aljazair menembakkan gas air mata untuk membubarkan puluhan ribu demonstran yang memadati sejumlah ruas jalan di Aljir untuk memprotes Presiden Abdelaziz Bouteflika, Jumat 1 Maret. Massa kesal karena Bouteflika ingin kembali berkuasa untuk periode kelima.

    Unjuk rasa serupa juga terjadi di beberapa kota lain seperti Oran, Constantine, Setif, Tizi Ouzou dan Bouira. Para pengunjuk rasa mengaku sudah tidak ingin lagi dipimpin Bouteflika yang sudah berkuasa selama 20 tahun.

    Gas air mata ditembakkan untuk membubarkan sekitar 200 demonstran muda yang berkumpul dekat istana kepresidenan di Aljir. Menurut data kepolisian, 56 aparat dan tujuh pengunjuk rasa terluka dalam bentrokan di Aljir. Petugas juga melakukan 45 penangkapan terhadap para pedemo di wilayah ibu kota.

    Sejumlah saksi mata melihat ada beberapa orang yang terluka akibat dipukul tongkat polisi, terkena gas air mata atau bebatuan yang dilemparkan kembali ke arah demonstran oleh aparat.

    Berkumpul di wilayah ibu kota usai ibadah Salat Jumat, sejumlah demonstran membawa bunga mawar sembari mengucapkan, "selamat tinggal Bouteflika," "damai, damai" dan "warga menolak Bouteflika dan Said." Said merujuk pada adik Bouteflika, 81, yang diyakini berkuasa di Aljazair atas nama kakaknya.

    "Masyarakat menginginkan rezim ini tumbang," teriak beberapa orang yang berkumpul di Place de la Grande Poste di pusat kota Aljir. Ini merupakan unjuk rasa terbesar di Aljazair sejak peristiwa Arab Spring.

    "Banyak orang berkumpul di sini," tutur Saidani Meriem dari partai oposisi Jil Jadid. "Ini adalah hari bersejarah. Presiden harus merespons gerakan massa ini, dengan menghentikan usahanya kembali berkuasa," lanjut dia, seperti dikutip dari laman Guardian, Sabtu 2 Maret 2019.

    Kubu oposisi menilai Bouteflika, yang jarang tampil di publik sejak dirinya menderita stroke pada 2013, sudah tidak fit untuk memimpin Aljazair. Mereka menilai sejak 2013, Aljazair dijalankan beberapa penasihat, termasuk adik Bouteflika, Said.

    Namun otoritas Aljazair berkukuh bahwa Bouteflika, yang berkuasa sejak 1999, masih kuat untuk terus memimpin. "Bouteflika sakit saat hendak berkuasa untuk periode keempat pada 2014. Tapi catatan medis dalam lima pekan terakhir memperlihatkan hasil yang baik," ungkap Perdana Menteri Ahmed Ouyahia kepada parlemen Aljazair pada Kamis kemarin.

    Bouteflika terbang ke Swiss pada Minggu kemarin untuk menjalani pemeriksaan medis menjelang pemilihan umum pada 18 April mendatang. Seorang calon presiden di Aljazair harus menjalani tes kesehatan dan dapat didiskualifikasi jika hasilnya buruk.

    Gelombang protes massa di lebih dari 30 kota di Aljazair dimulai pada Jumat pekan kemarin.

    (WIL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id