OKI Tolak Bantu Wujudkan Rencana Damai Trump di Timur Tengah

    Fajar Nugraha - 03 Februari 2020 19:39 WIB
    OKI Tolak Bantu Wujudkan Rencana Damai Trump di Timur Tengah
    Wakil Menteri Luar Negeri Mahendra Siregar dalam pertemuan OKI di Arab Saudi. Foto: Dok.Kemenlu RI
    Jeddah: Organisasi Kerja sama Islam (OKI) pada Senin menolak rencana perdamaian yang diajukan oleh Presiden AS Donald Trump untuk Timur Tengah. OKI menyerukan 57 negara anggotanya untuk tidak membantu mengimplementasikan rencana Trump.

    “Organisasi yang mewakili lebih dari 1,5 miliar Muslim di seluruh dunia, menolak rencana AS-Israel ini karena tidak memenuhi aspirasi minimum dan hak-hak sah rakyat Palestina dan bertentangan dengan kerangka acuan proses perdamaian,” sebut OKI dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip AFP, Senin, 3 Februari 2020.

    “Para menteri luar negeri di markas OKI menyerukan semua negara anggota tidak  menangani rencana ini atau bekerja sama dengan upaya pemerintah AS untuk menegakkannya dengan cara atau bentuk apa pun,” tegas pernyataan tersebut.

    Di bawah rencana AS yang diluncurkan minggu lalu, Israel akan mempertahankan kendali atas kota Yerusalem yang disengketakan. AS menegaskan bahwa Yerusalem adalah’ibu kota yang tidak terbagi’ dan melampirkan pemukiman di tanah Palestina.

    Trump mengatakan, Palestina akan diizinkan untuk mendeklarasikan ibu kota di dalam Yerusalem timur yang dicaplok. Sedangkan OKI menegaskan kembali dukungannya untuk Yerusalem timur sebagai ibu kota negara Palestina masa depan.

    Dikatakan perdamaian hanya akan tercapai dengan berakhirnya pendudukan Israel, penarikan penuh dari wilayah Negara Palestina, khususnya kota suci Al-Quds Al-Sharif (Yerusalem) dan wilayah Arab lainnya yang diduduki sejak Juni 1967.

    Liga Arab pada Sabtu juga menolak rencana kontroversial itu, dengan mengatakan pada sebuah pertemuan di Kairo bahwa mereka tidak memenuhi ‘hak minimum’ Palestina.

    Mereka mendesak solusi dua negara yang mencakup negara Palestina berdasarkan perbatasan sebelum perang 1967 - ketika Israel menduduki Tepi Barat dan Gaza - dan dengan Yerusalem timur sebagai ibukotanya.

    Pemimpin Palestina Mahmud Abbas mengumumkan di Kairo bahwa ia akan memutuskan semua hubungan dengan Israel dan AS.

    "Kami memberi tahu Anda bahwa tidak akan ada hubungan dengan Anda (Israel) dan Amerika Serikat, termasuk pada kerja sama keamanan," katanya.

    Rencana Trump juga memberi Israel lampu hijau untuk menganeksasi Lembah Jordan yang strategis -,yang merupakan 30 persen dari Tepi Barat,- dan semua pemukiman Yahudi, yang jumlahnya lebih dari 200.



    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id