Seorang Anak Tewas Tiap 12 Menit Akibat Perang Yaman

    Arpan Rahman - 13 Mei 2019 20:09 WIB
    Seorang Anak Tewas Tiap 12 Menit Akibat Perang Yaman
    Anak-anak di Yaman menderita kelaparan parah. (Foto: Mirror/Phillip Coburn).

    Sanaa: Di sebuah kamp pengungsi, Adbul Nasser yang disabel hampir menangis ketika bercerita bagaimana dia dan keluarganya harus meninggalkan rumah mereka atau mati kelaparan.

    Suami berusia 83 tahun, istrinya Faza, dan 25 cucu mereka menjadi korban perang saudara yang berkecamuk di Yaman. Akibatnya apa yang oleh lembaga bantuan disebut "krisis kemanusiaan terburuk di dunia".

    Seorang anak meninggal di sini karena kelaparan setiap 12 menit,-sepanjang 120 hari,- dalam kelaparan yang sama menghancurkannya dengan yang dialami orang Ethiopia pada 1984. Stok seperti susu dan roti sekarang digambarkan sebagai ‘kemewahan’.

    Tetapi karena jutaan orang kelaparan di tengah melonjaknya harga pangan dan blokade militer, ini menjadi perang terlupakan yang jarang muncul di TV.

    Ribuan warga sipil terbunuh dalam konflik yang menghancurkan ini karena pertempuran dan wabah kolera. Abdul dan kerabatnya harus melarikan diri dari desa terpencil dan berjalan ratusan kilometer melintasi garis depan, menghindari tentara dan ranjau darat, sebelum
    mereka tiba di kamp di Marib. Dia katakan: "Keluarga kami tidak punya pilihan selain pergi. Kami tidak punya makanan, itu berbahaya, kami akan mati kelaparan."

    Abdul adalah pria yang hancur. Dia tidak peduli siapa memulai perang yang telah menghancurkan negara ini sejak 2014, dia hanya tahu itu menghancurkan kehidupan keluarga yang dulu bahagia.

    Ketika dia berbicara, cucu-cucunya berkerumun di sekitarnya -- tidak menyadari betapa beruntungnya mereka hidup. Dia memperhatikan dengan penuh kasih ketika Taiba yang termuda, berumur satu bulan, dipeluk oleh saudara perempuannya.

    Seorang Anak Tewas Tiap 12 Menit Akibat Perang Yaman
    Abdul Nasser bersama dengan keluarganya harus bertahan dari perang. (Foto: Mirror/Phillip Coburn).

    Abdul, yang sangat lemah selama perjalanan berbahaya dari rumahnya di daerah yang dikuasai Houthi, menambahkan: "Sebelum perang dimulai, kami adalah keluarga besar yang damai tanpa masalah. Tapi sekarang tidak mungkin bertahan hidup di sana. Kami kelaparan dan kami
    harus bergerak. Bahkan makanan yang kami miliki diambil dari kami untuk diberikan kepada teman-teman prajurit."

    "Saya tidak percaya apa yang terjadi pada Yaman dan negara saya.” Seorang kerabat berkata: "Kami tidak pernah mengira kami akan berakhir di kamp pengungsi."

    "Hidup itu tidak mudah sebelumnya, tetapi setidaknya kami punya beberapa makanan. Kami tidak pergi tidur lapar. Kami harus lari untuk bertahan hidup. Semua orang lapar dan semua orang berjuang itu adalah mimpi buruk. Ini bukan kehidupan yang Anda inginkan untuk anak-anak dan keluarga Anda," sambungnya, disitir dari laman Mirror, Minggu 12 Mei 2019.

    Seorang pengungsi lain, yang meminta untuk tidak disebutkan namanya karena dia memiliki keluarga di daerah Houthi, menambahkan: "Orang-orang sekarat karena kelaparan. Itu tidak biasa. Itu menjadi normal. Tidak cukup makanan."

    Sultana Begum, berasal dari Crouch End, London Utara, bekerja untuk sebuah badan amal di Sanaa di mana dia menyaksikan tragedi yang mengerikan. Dia memohon pada dunia agar membantu sebelum semuanya terlambat.

    “Yaman sedang kelaparan. Ini adalah krisis buatan manusia. Kelaparan di Yaman bukanlah kecelakaan atau disebabkan oleh fenomena alam. Tidak ada kesalahan tentang itu. Lebih dari 20 juta orang di seluruh negeri kelaparan. Seperempat juta orang hidup dalam kondisi seperti kelaparan dan tanpa bantuan kemanusiaan orang-orang ini kemungkinan besar akan mati kelaparan,” tegas Begum.

    Direktur regional UNICEF Geert Cappelaere menggambarkan Yaman sebagai ‘neraka hidup’ bagi anak-anak.

    Lise Grande, koordinator kemanusiaan PBB untuk Yaman menambahkan: “Saya pikir banyak dari kita merasa ketika kita memasuki abad ke-21 bahwa tidak terpikirkan kita bisa melihat kelaparan seperti yang kita lihat di Ethiopia yang tidak dapat diterima."

    "Banyak dari kita memiliki kepercayaan diri yang tidak akan pernah terjadi lagi, tetapi kenyataannya adalah bahwa di Yaman itulah yang kita lihat," cetusnya.

    Menurut PBB, dari 233.000 kematian yang diperkirakan di Yaman, 102.000 terkait perang dan 131.000 dari kekurangan gizi, kolera, dan penyakit lainnya. Dalam statistik mengejutkan lainnya, dikatakan 140.000 anak akan terbunuh sejak awal konflik.

    Saat ini lebih dari 100 lainnya telah dimakamkan di kuburan darurat di seluruh negeri. Pekan ini muncul tanda-tanda pertama kemungkinan perdamaian dengan pemberontak Houthi berjanji meninggalkan pelabuhan utama Hodeidah --
    di mana banyak bantuan masuk.

    Tetapi yang memperumit situasi, Al Qaeda semakin kuat di sini -- menewaskan enam orang dalam pengeboman Jumat lalu.



    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id