Korban Terinjak-injak di Pemakaman Soleimani Jadi 50 Orang

    Willy Haryono - 08 Januari 2020 06:20 WIB
    Korban Terinjak-injak di Pemakaman Soleimani Jadi 50 Orang
    Ribuan hingga jutaan orang mengikuti prosesi pemakaman Qassem Soleimani di kota Kerman, Iran, Selasa 7 Januari 2020. (Foto: AFP / ATTA KENARE)
    Kerman: Jumlah korban tewas dalam insiden terinjak-injak di rangkaian prosesi pemakaman jenderal Qassem Soleimani di Kerman, Iran, Selasa 7 Januari 2019, bertambah menjadi 50 orang. Kematian ini membuat penguburan jenazah Soleimani ditunda.

    Penguburan di kota kelahiran Soleimani merupakan bagian akhir dari rangkaian prosesi pemakaman yang diikuti ribuan hingga jutaan warga Iran.

    Seorang petugas koroner mengatakan kepada kantor berita ISNA bahwa jumlah korban tewas mencapai 50 orang, dengan 200 lainnya mengalami luka-luka. Video di media sosial Iran memperlihatkan sejumlah orang bergelimpangan di jalanan kota Kerman.

    Media Iran kemudian melaporkan bahwa penguburan Soleimani dilanjutkan. Tayangan televisi Iran memperlihatkan peti mati berisi jenazah Soleimani yang hendak dimakamkan. Warga terlihat melempari berbagai kain ke arah peti tersebut sebagai bentuk penghormatan.

    "Qassem Soleimani sekarang menjadi lebih kuat setelah dia meninggal," ujar Mayor Jenderal Hossein Salami, salah satu petinggi Korps Garda Revolusioner Iran (IRGC) kepada warga di Kerman, dikutip dari BBC.

    Menjabat kepala Quds Force yang merupakan bagian dari IRGC, Soleimani dipandang banyak orang sebagai tokoh terkuat kedua di Teheran setelah Pemimpin Agung Ayatollah Ali Khamenei.
     
    IRGC dibentuk untuk melindungi sistem keislaman di Iran, yang juga merupakan kekuatan politik serta militer utama di negara tersebut. Quds Force merupakan perpanjangan tangan dari IRGC untuk wilayah luar negeri.

    Kematian Soleimani di tangan Amerika Serikat pada Jumat 3 Januari telah membuat ketegangan antara Iran dan AS melonjak drastis. Ketegangan juga berlangsung antara Irak dan AS, karena Soleimani tewas dibunuh di wilayah Baghdad.
     
    Menurut Presiden AS Donald Trump, Soleimani harus dibunuh karena tengah merencanakan serangan terhadap diplomat dan personel militer Washington di Irak. Ia juga menyebut kematian Soleimani diperlukan demi menghindari terjadinya perang terbuka.



    (WIL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id