Hampir 100 Anak Tewas dalam Wabah Ebola Terbaru

    Arpan Rahman - 12 Februari 2019 17:53 WIB
    Hampir 100 Anak Tewas dalam Wabah Ebola Terbaru
    Pemeriksaan suhu tubuh warga di Kongo guna mengantisipasi wabah Ebola. (Foto: AFP).
    Kishaha: Hampir 100 anak telah meninggal karena Ebola di Republik Demokratik Kongo baru-baru ini. Kematian anak-anak itu sekarang didokumentasikan sebagai penyebaran penyakit mematikan terburuk kedua di dunia.

    Save Our Children, organisasi nirlaba global yang telah memerangi penyebaran penyakit terbaru di Afrika, mengatakan dalam sebuah pernyataan pada Minggu. Disebutkan bahwa jumlah itu dapat bertambah karena lonjakan dalam wabah bulan lalu.
    Para pejabat mengkonfirmasi setidaknya 785 kasus Ebola selama enam bulan terakhir, yang mengakibatkan 484 kematian. Pejabat kesehatan mengidentifikasi 120 kasus baru pada Januari. Secara keseluruhan, 97 anak telah meninggal dalam wabah.

    "Kita berada di ketidakpastian," Heather Kerr, direktur Save the Children di Kongo, mengatakan. "Jika kita tidak mengambil langkah-langkah mendesak untuk mengatasi ini, wabah itu mungkin berlangsung enam bulan lagi, jika tidak sepanjang tahun," sambungnya.

    "RD Kongo adalah negara yang menderita dari kekerasan dan konflik dan krisis kelaparan yang ekstrim -- sekitar 4,6 juta anak kekurangan gizi akut. Kekhawatiran utama bagi banyak orang adalah keamanan dan memastikan mereka memiliki cukup makanan. Tetapi Ebola harus menjadi prioritas utama," cetusnya, seperti disitat dari laman UPI, Selasa 12 Februari 2019.

    Sebuah laporan PBB menyebutkan baru-baru ini hampir 900 orang tewas selama periode tiga hari pada Desember karena kekerasan etnis. Pertempuran antara komunitas Banunu dan Batende di wilayah Yumbi mematikan sedikitnya 890 orang dan 82 lainnya luka-luka.

    Para gerilyawan membakar atau menjarah 465 rumah dan bangunan lainnya, termasuk dua sekolah, pusat layanan kesehatan, pasar, dan kantor pemilu. Pemilihan presiden di beberapa wilayah dibatalkan karena kekerasan.

    Yang membuat masalah menjadi lebih rumit, Kongo memilih presiden baru Felix Tshisekedi bulan lalu menggantikan pemimpin lama Joseph Kabila di bawah kontroversi. Kandidat oposisi seterunya, Martin Fayulu, yang berada di urutan kedua dalam pemungutan suara Desember, mendesak para pendukung untuk memprotes. Seraya mengatakan Tshisekedi mencapai kesepakatan di balik layar untuk mengklaim kemenangan.

    Penyebaran saat ini adalah wabah Ebola ke-10 di RD Kongo dan yang paling parah di negara Afrika tengah sejak para ilmuwan pertama kali mengidentifikasi virus di dekat Sungai Ebola 40 tahun lalu. Wabah Ebola terburuk terjadi antara 2014 dan 2016 dan menyebar di beberapa negara Afrika Barat. Akhirnya menewaskan lebih dari 11.300 orang.

    "Sangat penting meyakinkan masyarakat bahwa Ebola adalah masalah yang mendesak dan nyata," kata Kerr. "Orang-orang telah mengusik pemakaman karena mereka tidak percaya si mati telah menyerah pada virus. Kita harus meningkatkan upaya untuk menjangkau para pemuda dan pemimpin masyarakat yang vokal demi membangun kepercayaan dan membantu kita mengubah wabah ini," pungkasnya.



    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id