Kanada Terpukul atas Tragedi Ethiopian Airlines

    Arpan Rahman - 11 Maret 2019 14:34 WIB
    Kanada Terpukul atas Tragedi Ethiopian Airlines
    PM Kanada Justin Trudeau. (Foto: AFP)
    Montreal: Perdana Menteri Justin Trudeau mengaku terpukul atas tewasnya 18 warga Kanada yang menjadi bagian dari 157 korban kecelakaan pesawat maskapai Ethiopian Airlines di kota Bishoftu dekat Addis Ababa.

    Pesawat Ethiopian Airlines dengan nomor penerbangan ET302 jatuh enam menit usai lepas landas dari Addis Ababa menuju Nairobi, Kenya, pada 10 Maret.

    "Berita mengejutkan datang dari Ethiopia pagi ini," tulis PM Trudeau di akun Twitter miliknya. "Kami semua turut berduka untuk para korban dan keluarganya, termasuk beberapa warga Kanada yang berada di pesaat tersebut," lanjutnya.

    Kantor PM Trudeau kemudian mengungkapkan pernyataan resmi yang berbunyi bahwa pemerintah Kanada "turut berduka bersama komunitas internasional atas hilangnya banyak nyawa."

    "Saya telah menghubungi Presiden Kenya Uhuru Kenyatta dan Perdana Menteri Ethiopia Abiy Ahmed untuk mengekspresikan rasa belasungkawa ats tragedi ini," sambungnya, seperti dinukil dari laman Channel News Asia, Senin 11 Maret 2019. Korban tewas terbanyak berasal dari Kenya.

    Ethiopian Airlines mengatakan penumpang ET302 berasal dari 33 negara. Jumlah korban dari Kenya mencapai 32 orang, sementara Kanada 18.

    Seorang warga Indonesia juga berada di deretan korban tewas. Ia diketahui sebagai seorang wanita bernama Harina Hafitz yang bekerja untuk World Food Programme (WFP), salah satu organisasi terafiliasi Perserikatan Bangsa-Bangsa.

    Sedikitnya 19 staf PBB juga dilaporkan tewas dalam kecelakaan tersebut. Jumlah pasti personel yang tewas belum dapat ditentukan, karena ada beberapa dari mereka tidak menggunakan paspor PBB. Kecelakaan terjadi menjelang sebuah konferensi Program Lingkungan PBB di Kenya.

    Pilot penerbangan Ethiopian Airlines ET302 sempat melaporkan adanya masalah teknis dan meminta izin berbalik ke bandara, sesaat sebelum pesawat nahas itu jatuh di dekat kota Bishoftu, berjarak sekitar 62 kilometer dari Addis Ababa.
     
    Pesawat tersebut jatuh enam menit usai lepas landas dari bandara Addis Ababa menuju Nairobi, Kenya, pada Minggu 10 Maret 2019. Menara pengawas kehilangan kontak dengan Boeing 737 Max 8 itu pada pukul 08.44 waktu Ethiopia.
     
    Penyebab kecelakaan belum diketahui. Chief Executive Officer Ethiopian Airlines Tewolde Gebremariam mengatakan sesi perawatan rutin sebelum ET302 lepas landas tidak menunjukkan adanya masalah. Kapten Yared Getachew yang menerbangkan pesawat tersebut juga sudah memiliki lebih dari 8000 jam terbang dengan "catatan rekor luar biasa."

    Baca: PBB Konfirmasi Identitas WNI Korban Tragedi Ethiopian Airlines



    (WIL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id