Aljazair Umumkan Pemilu Akibat Tekanan Protes

    Arpan Rahman - 11 April 2019 19:07 WIB
    Aljazair Umumkan Pemilu Akibat Tekanan Protes
    Warga Aljazair protes menuntut perubahan dalam kekuasaan. (Foto: AFP).
    Aljir: Aljazair akan membuka tempat pemungutan suara pada Juli. Saat yang sama, para demonstran terus melakukan protes terhadap elite yang berkuasa minta pengunduran diri pemimpin veteran Abdelaziz Bouteflika.

    Pemilihan presiden akan diadakan pada 4 Juli, demikian keterangan dari kantor Presiden sementara Abdelkader Bensalah. Dia sebelumnya mengatakan berjanji akan mengadakan pemilu ‘transparan’.

    Mahasiswa

    Jadwal itu baru ditetapkan sehari setelah Bensalah menjabat untuk periode 90 hari, sebagaimana ditentukan oleh konstitusi. Tetapi masih banyak kemarahan pemrotes.

    Nyanyian ‘Pergilah Bensalah!’ dan ‘Aljazair bebas!’ terdengar dari ribuan demonstran yang berkumpul di bawah pengawasan polisi di Aljir, di lokasi demonstrasi anti-rezim digelar selama tujuh pekan terakhir.

    Penunjukan ketua majelis tinggi Bensalah sebagai presiden baru pertama Aljazair dalam 20 tahun gagal memenuhi tuntutan demonstran.

    Meskipun Bensalah yang berusia 77 tahun dilarang di bawah konstitusi untuk mencalonkan diri dalam pemilu mendatang, para pengunjuk rasa tetap mendorong sekutu dekat Bouteflika itu untuk mundur.

    Para mahasiswa dan hakim pada Rabu menyerukan para demonstran melanjutkan aksi unjuk rasa dan pawai mereka di ibu kota dan kota-kota lain di seluruh negara Afrika Utara.

    Panglima Angkatan Darat Jenderal Ahmed Gaid Salah, dikutip dalam pernyataan kementerian pertahanan, mengatakan militer akan memastikan transisi mengikuti "aturan transparansi dan integritas, dan hukum republik".

    Namun dia memperingatkan terhadap "slogan-slogan yang bertujuan mengarahkan negara dalam kekosongan konstitusi dan menghancurkan institusi negara".

    "Dengan dimulainya fase baru dan pawai terus berlanjut, kami menyesalkan munculnya upaya oleh pihak asing tertentu untuk mengacaukan negara,” katanya, tanpa menunjukkan jari, disitir dari laman Daily Nation, Kamis 11 April 2019.

    Tentara

    Panglima Angkatan Darat juga mengisyaratkan bahwa militer akan melindungi kelembagaan Aljazair.

    "Adalah tidak masuk akal untuk mengelola periode transisi tanpa lembaga," kata Salah, memperingatkan bahwa skenario seperti itu "dapat mengkompromikan semua yang telah dicapai hingga hari ini sejak kemerdekaan" dari Prancis pada 1962.

    Untuk kali pertama dalam gelombang demonstrasi yang melanda Aljazair sejak pertengahan Februari, polisi menembakkan gas air mata dan meriam air Selasa demi membubarkan protes oleh mahasiswa.

    "Apa yang terjadi kemarin adalah pelanggaran terhadap hak kami untuk berdemonstrasi," kata Asma, mahasiswa jurnalisme berusia 22 tahun.

    "Kami akan melanjutkan setiap hari jika diperlukan sampai klan (penguasa) terakhir minggir," tekadnya. 

    Sejak Bouteflika mengumumkan pengunduran dirinya pada 2 April setelah kehilangan dukungan militer, para demonstran mendesak agar orang dalam rezim dikeluarkan dari transisi politik.

    Semua mata sekarang terfokus pada jumlah pemilih di jalan-jalan pada Jumat, hari tradisional protes di Aljazair, dan apakah pihak berwenang akan mengadopsi garis yang lebih keras dan meningkatkan langkah-langkah keamanan.

    Bagi Mohamed Hennad, profesor ilmu politik di University of Algiers, "keseimbangan pasukan akan menguntungkan jalan jika itu adalah mobilisasi besar pada Jumat" seperti dalam beberapa pekan terakhir.

    Bouteflika

    Bagi banyak orang Aljazair, jaminan presiden sementara dari transisi konstitusional ke masa depan pasca-Bouteflika telah gagal meredakan kekhawatiran mereka.

    "Bensalah adalah sisa dari sistem. Selama dua puluh tahun terakhir, mereka telah memberi kita janji. Hasilnya: mereka telah mengambil segalanya dan membuat orang-orang dalam kemiskinan," kata Lahcen, yang bekerja di sebuah kafe Algiers.

    "Apa yang kami inginkan adalah pemilihan bebas yang benar-benar demokratis," kata perempuan berusia 26 tahun itu, yang menghasilkan 25.000 dinar (sekitar USD200) per bulan.

    Gerakan protes menyerukan kerangka transisi baru yang berkomitmen guna reformasi mendalam.

    Bouteflika yang sakit akhirnya mengundurkan diri pada usia 82 tahun sesudah demonstrasi selama beberapa pekan yang dipicu upayanya untuk memburu masa jabatan kelima. Setelah dua dekade berkuasa, ia kehilangan dukungan dari para penyokong utama termasuk kepala angkatan bersenjata.

    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id