Setengah Juta Warga Melarikan Diri dari Idlib Suriah

    Arpan Rahman - 05 Februari 2020 17:03 WIB
    Setengah Juta Warga Melarikan Diri dari Idlib Suriah
    Foto udara memperlihatkan kota Maaret Al-Numan di provinsi Idlib yang nyaris kosong, 23 Desember 2019. (Foto: AFP/OMAR HAJ KADOUR)
    Idlib: Serangan pasukan Suriah di markas pertahanan terakhir kelompok pemberontak di Idlib telah memicu gelombang pengungsian besar-besaran sejak akhir 2019. Tingginya intensitas serangan udara Suriah di Idlib telah memicu eksodus warga ke arah perbatasan Turki, yang otomatis sejumlah kota benar-benar kosong.

    "Sejak 1 Desember, sekitar 520 ribu orang telah melarikan diri dari rumah mereka (di Idlib). Sekitar 80 persen dari mereka adalah wanita dan anak-anak," kata David Swanson, juru bicara Badan Koordinasi Kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (OCHA).

    Eksodus besar-besaran tersebut, terjadi di tengah musim dingin, merupakan yang terbesar sejak perang sipil di Suriah meletus pada 2011. Konflik berkepanjangan tersebut telah membuat lebih dari separuh total populasi 20 juta orang di Suriah kehilangan tempat tinggal.

    "Gelombang pengungsian terbaru ini semakin memperburuk situasi kemanusiaan di lapangan," ucap Swanson, dirilis dari Guardian, Selasa 4 Februari 2020. Ia mengatakan PBB khawatir atas nasib lebih dari tiga juta orang di provinsi Idlib dan sekitarnya.

    Mohammad Bahjat, 34, melarikan diri bersama keluarganya untuk kali ketiga dalam beberapa hari terakhir di Idlib. "Kami berlari tengah malam, dan tidak tahu harus pergi ke mana," tutur dia kepada AFP.

    Pasukan Suriah belakangan juga bertempur dengan militer Turki di wilayah perbatasan. Perseteruan ini disebut Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres sebagai sesuatu yang "sangat mengkhawatirkan."

    Sedikitnya lima prajurit Turki dan tiga warga sipil tewas dalam serangan Suriah di Idib. Turki kemudian membalas serangan. Grup pemantau Syrian Observatory for Human Rights (SOHR) mencatat sedikitnya 13 tentara Suriah tewas dalam serangan balasan Turki.

    Presiden Recep Tayyip Erdogan mengatakan kepada Presiden Rusia Vladimir Putin bahwa Ankara akan merespons "keras" terhadap segala bentuk serangan Suriah. Rusia merupakan sekutu dekat Suriah.

    Berbicara di markas PBB, Guterres meminta agar Turki dan Suriah sama-sama menghentikan aksi saling serang.




    (WIL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id