KJRI Jeddah Desak Majikan Bayar Kompensasi TKI

    Sonya Michaella - 08 September 2019 09:34 WIB
    KJRI Jeddah Desak Majikan Bayar Kompensasi TKI
    Sekelompok TKI bermasalah dari Arab Saudi tiba di Bandara Soekarno Hatta. (Foto: Antara/Lucky R)
    Jeddah: KJRI Jeddah mendesak seorang pengguna jasa (majikan) untuk segera membayar kompensasi senilai 50 ribu Riyal atau setara Rp185 juta kepada Tenaga Kerja Indonesia (TKI) berinisial SW. 

    Kompensasi tersebut merupakan hasil kesepakatan setelah SW menyatakan bersedia memberikan pemaafan (tanazul) kepada keluarga majikan yang telah melakukan penganiayaan terhadapnya.

    KJRI Jeddah juga berhasil mendesak majikan melunasi sisa gaji 12 bulan yang nilainya mencapai 12 ribu riyal atau setara Rp44,4 juta.

    Awalnya, keberadaan SW ditemukan KJRI atas informasi dari pihak kepolisian yang menyebutkan adanya seorang perempuan asal Indonesia dengan beberapa bekas luka pada beberapa bagian tubuhnya. Kepada polisi, dia mengaku melarikan diri dari majikannya.

    Setelah menerima hak-haknya, SW dipulangkan ke Indonesia pada Sabtu, 7 September 2019 kemarin.

    "Kami memerintahkan tim petugas agar segera menjemput SW di kantor polisi," kata Konsul Jenderal RI untuk Jeddah, Mohamad Hery Saripudin, dalam keterangan KJRI Jeddah kepada Medcom.id, Minggu 8 September 2019.

    Berbekal surat keterangan dari pihak kepolisian, Tim Pelayanan dan Pelindungan Warga (Yanlin) KJRI Jeddah membawa SW ke rumah sakit untuk melakukan visum.

    "Ini tindakan tidak berperikemanusiaan yang harus diproses secara hukum. Kami perintahkan agar kasus ini dikawal dan pelaku dibawa ke jalur hukum," tegas Hery

    Dia menambahkan, KJRI Jeddah saat ini sedang berkoordinasi dengan instansi berwenang di tanah air untuk melakukan upaya hukum terhdap pihak-pihak yang terlibat dalam peristiwa yang menyebabkan terjadinya penganiayaan terhadap SW.

    Kepada petugas, SW menuturkan dirinya dibawa majikan dari Abha ke Jeddah. Saat ada kesempatan, dia kabur dari rumah majikannya yang di Jeddah karena tidak tahan terhadap penyiksaaan oleh majikan laki dan perempuan dan beban kerja yang berlebihan.

    "Waktu saya kabur saya ditolong oleh seseorang dan dibawa ke Kantor Polisi, lalu dijemput oleh pihak KJRI," tutur perempuan asal Lombok Barat itu.

    Menurut SW, tindakan kasar atas dirinya berawal dari majikan perempuan yang  memergoki suaminya (majikan laki SW) tengah mencoba melakukan pelecehan seksual terhadap SW. Sejak itu, setiap melakukan kesalahan kecil, dia mengalami kekerasan fisik, mulai dari tamparan, cambukan dengan kabel hingga  siraman air mendidih. Bahkan pernah, imbuh SW, dirinya dikasih makan dari sisa makanan di tong sampah.

    Berdasarkan berita acara pemeriksaan (BAP), SW nekat berangkat ke Arab Saudi untuk bekerja meski ada larangan  pengiriman TKI ke Timur Tengah termasuk Arab Saudi.  Namun demikian, SW mengaku tidak mengetahui adanya larangan tersebut. Dia berdalih keberangkatannya ke luar negeri untuk bekerja karena alasan ekonomi.

    SW dipertemukan oleh temannya kepada seorang agen berinisial LR yang berjanji akan membantunya mencarikan pekerjaan di Arab Saudi dan memberinya uang sebesar 3 juta rupiah. Namun, LR mewanti-wanti SW agar ketika ditanya petugas imigrasi saat membuat paspor, dia harus bilang dirinya akan berangkat kerja ke Malaysia.

    Sekitar satu bulan menunggu di rumah, akhirnya perempuan kelahiran 1994 tersebut diantar oleh sopir LR pada 19 Desember 2017 untuk terbang ke Jakarta. Setibanya di Bandara Soekarno Hatta, dia  dijemput oleh LR dan pada hari yang sama dia diterbangkan ke Riyadh Arab Saudi. Dari Riyadh, SW langsung diberangkatkan menuju Abha, Ibu Kota Provinsi Asir yang berjarak sekitar 700 km dari KJRI Jeddah.

    "Di Riyadh saya dijemput oleh orang Saudi. Saya tidak kenal.  Terus saya diterbangkan lagi ke Abha. Setelah di Abha saya dijemput orang dan dibawa ke rumah majikan," ujar dia. 

    SW merupakan korban perdagangan manusia bermodus pekerjaan. Selama di Arab Saudi, SW berstatus ilegal karena tidak memiliki izin tinggal (iqamah). Dia diberangkatkan LR dengan visa ziarah (kunjungan) yang menurut aturan yang berlaku di Arab Saudi tidak bisa digunakan untuk bermukim. 



    (WIL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id