Samoa Perangi Epidemi Campak, Penentang Vaksin Ditangkap

    Arpan Rahman - 07 Desember 2019 08:03 WIB
    Samoa Perangi Epidemi Campak, Penentang Vaksin Ditangkap
    Warga Samoa menerima vaksin campak. Foto: AFP
    Apia: Pejabat Samoa memperingatkan Jumat bahwa propaganda antivaksin tidak akan ditoleransi. Setelah seorang juru kampanye media sosial ditangkap karena menentang upaya imunisasi massal yang bertujuan untuk menahan epidemi campak mematikan di negara Pasifik ini.

    Sedikitnya 63 orang, kebanyakan anak-anak, telah meninggal sejak wabah dimulai pada pertengahan Oktober. Krisis disalahkan pada apa yang disebut ‘juru kampanye antivaksin’ meyakinkan orang tua bahwa imunisasi itu berbahaya.

    Pada Jumat, pemerintah dan pekerja bantuan menyebar ke seluruh negara yang terdiri dari 200.000 orang untuk memvaksinasi sebanyak mungkin warga.

    Tetapi Menteri Komunikasi Afamasaga Rico Tupai mengatakan, kaum antivaksin menyebarkan teori konspirasi menghambat mobilisasi kesehatan masyarakat yang belum pernah terjadi sebelumnya.

    "Juru kampanye antivaksin sayangnya telah memperlambat kita," katanya kepada TVNZ.

    "Kami mendapati anak-anak yang meninggal setelah datang ke rumah sakit sebagai upaya terakhir dan kemudian kami menemukan pesan anti-vaksin telah sampai ke keluarga mereka dan itulah sebabnya mereka menahan anak-anak ini di rumah," tukasnya, dilansir dari AFP, Jumat 6 Desember 2019.

    Dia memperingatkan juru kampanye antivaksin: "Jangan menghalangi, jangan berkontribusi pada kematian".

    Pemerintah mendukung retorika yang keras dengan menangkap kampanye anti-vaksinasi vokal Edwin Tamasese Kamis malam dan menuduhnya menghasut terhadap perintah pemerintah. Para pejabat mengatakan mereka bertindak setelah Tamasese mengabaikan peringatan sebelumnya untuk menghentikan kampanyenya.

    Tamasese, yang tidak memiliki pelatihan medis, telah menentang vaksin di laman Facebook-nya dan menganjurkan menggunakan obat dukun seperti ekstrak daun pepaya untuk mengobati campak.

    Dalam postingan terakhir pada Kamis sebelum penangkapannya Tamasese menggambarkan upaya vaksinasi sebagai ‘kejahatan terbesar terhadap warga kita’, dan mengatakan vitamin C akan menyelamatkan anak-anak.

    Postingan itu dibagikan lebih dari 7.000 kali, komentar atau interaksi. Pemerintah memiliki kekuatan khusus setelah mendeklarasikan keadaan darurat untuk menangani krisis campak dan Samoa Observer melaporkan bahwa Tamasese dapat menghadapi dua tahun penjara.

    Namun, para pejabat di Pasifik tidak dapat berbuat apa-apa tentang antivaksin yang berbasis di luar negeri, yang dilaporkan Observer membanjiri situs web pemerintah dengan materi yang Tupai gambarkan sebagai ‘omong kosong’.

    Contohnya termasuk ahli teori konspirasi yang berpusat di Texas Ellen Dann, yang mengklaim vaksin, bukan campak, telah menyebabkan peningkatan kematian di Samoa sebagai bagian dari skema oleh perusahaan farmasi untuk menjual lebih banyak obat-obatan.

    Upaya pemerintah


    Perdana Menteri Tuilaepa Sailele Malielegaoi mengatakan, hari pertama penutupan berlangsung sukses, dengan 17.500 orang, atau hampir 10 persen dari populasi, menerima vaksin.

    Sebagai bagian dari penutupan, semua bisnis dan layanan pemerintah yang tidak penting ditutup dan penduduk diperintahkan untuk mematuhi jam malam hingga senja.

    Sejumlah keluarga juga diperintahkan memasang bendera merah di luar rumah mereka guna memperingatkan tim imunisasi seluler jika orang-orang di dalamnya tidak divaksinasi.

    Namun infeksi terus menyebar, Kementerian Kesehatan Samoa melaporkan pada Jumat pagi 140 kasus baru selama 24 jam sebelumnya.

    Satu orang lagi meninggal, sehingga jumlah kematian yang dikonfirmasi menjadi 63, dengan 55 korban berusia empat tahun ke bawah. Dua puluh anak sakit kritis di rumah sakit, menurut kementerian.

    Bayi menjadi yang paling rentan terhadap campak, yang biasanya menyebabkan ruam dan demam tetapi juga dapat menyebabkan kerusakan otak dan kematian.

    Tingkat imunisasi campak Samoa turun menjadi sekitar 30 persen setelah insiden tahun lalu yang melibatkan kematian dua bayi yang oleh juru kampanye antivaksin keliru disalahkan pada obat.

    Tindakan drastis yang sedang dilakukan saat ini bertujuan untuk mengangkat tingkat ke standar global 90 persen, yang seharusnya membantu mengurangi wabah saat ini dan menghentikan epidemi di masa depan.

    Kepala regional UNICEF pada Kamis mengatakan kepada AFP bahwa raksasa media sosial seperti Facebook dan Twitter ‘sangat tidak bertanggung jawab’ karena membiarkan informasi yang salah menyebar di laman mereka.

    Samoa telah menerima bantuan untuk memerangi krisis dari Australia, Selandia Baru, Prancis, Inggris, Tiongkok, Norwegia, Jepang, Amerika Serikat, dan PBB.

    Tetapi Malielegaoi meminta lebih banyak bantuan dari komunitas internasional.

    "Fasilitas kesehatan telah kewalahan dalam menghadapi masuknya pasien," katanya.

    "Dampak dari keadaan darurat ini akan jauh melanda Samoa dan orang-orang kita terutama generasi muda kita," pungkasnya.



    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id