13 Tewas Tertembak dalam Protes AntiKorupsi di Irak

    Arpan Rahman - 25 November 2019 18:51 WIB
    13 Tewas Tertembak dalam Protes AntiKorupsi di Irak
    Warga Irak yang melakukan protes menentang korupsi di pemerintah. Foto: AFP
    Baghdad: Sebanyak 13 orang tewas dalam unjuk rasa di seluruh Irak pada Minggu. Setelah pasukan keamanan menembaki berbagai kelompok yang sebagian besar tidak bersenjata yang berdemonstrasi menentang korupsi pemerintah.

    Disiarkan dari Daily Telegraph, Senin 25 November 2019, enam orang terbunuh di kota-kota selatan ketika pihak berwenang berupaya menghentikan protes yang merebak dengan segala cara.

    Sebelum fajar, tiga pedemo ditembak dan setidaknya 47 terluka oleh pasukan keamanan di Nasiriyah, sekitar 300 kilometer selatan ibu kota Baghdad.

    Para demonstran berkumpul semalam di tiga jembatan di atas Sungai Efrat dan ketika mereka ditembaki pasukan keamanan yang mematikan. Seorang pria keempat yang ditembak di kepala kemudian meninggal karena luka-lukanya.

    Kematian itu terjadi setelah malam kekacauan di Nasiyirah, kota terbesar keempat di Irak, termasuk kantor-kantor pemerintah dibakar dan evakuasi bayi serta anak-anak dari rumah sakit setelah gas air mata dilepaskan di halaman.

    Di ujung selatan negara itu, di pantai Teluk Arab, tiga demonstran tewas dan sekitar 50 lainnya luka-luka sesudah pasukan keamanan menggunakan peluru tajam pada para demonstran yang menghalangi akses ke pelabuhan selatan Umm Qasr.

    Pelabuhan dibuka kembali oleh dinas keamanan pada Jumat setelah demonstran menutupnya lima hari sebelumnya, menghentikan lalu lintas di pelabuhan tersibuk di Irak.

    Sedikitnya dua orang dilaporkan terbunuh dalam bentrokan Jumat di sana. Umm Qasr menjadi tempat banyak makanan dan obat-obatan yang dijual di Irak masuk ke negara itu, dan di mana ekspor energi vital mengalir ke pasar internasional.

    Di Baghdad, ibu kota, dua pengunjuk rasa tewas setelah polisi menggunakan tembakan langsung untuk membubarkan para demonstran yang berkumpul di jalan al-Rasheed, salah satu jalan utama di pusat kota.

    Kekerasan Minggu membuat jumlah kematian dalam protes anti-pemerintah menjadi 339. Demonstrasi dimulai pada awal Oktober dan terus berkembang sejak saat itu.

    Media pemerintah Irak mengatakan Minggu bahwa mereka menghitung 111 tewas, termasuk pengunjuk rasa dan anggota pasukan keamanan, meskipun penghitungan ini tidak jelas terikat waktu. Sejumlah besar warga Irak dari seluruh spektrum sosial dan agama telah turun ke jalan selama delapan pekan dalam serangkaian demonstrasi menentang korupsi.

    Mereka sebagian besar bersatu dalam kemarahan atas pemerintah yang telah mengecewakan mereka: meskipun kekayaan minyak negara itu sangat besar, satu dari lima warga Irak hidup di bawah garis kemiskinan, dan satu dari empat pemuda menganggur.

    Meskipun para pemimpin negara telah mengakui tuntutan para pemrotes sebagai perubahan yang sah dan menjanjikan, termasuk merekrut lebih banyak pegawai negeri sipil, mereformasi sistem pemilihan umum dan merombak kabinet, demonstrasi terus berlanjut.

    "Kami tidak takut akan ancaman," kata seorang pengunjuk rasa, Salem Hassan, di kota selatan Amara. "Kita tidak bisa tetap diam di hadapan barbarisme para pemimpin dan waktu yang mereka ambil untuk memenuhi tuntutan kita," pungkasnya.



    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id