Erdogan Ancam Hancurkan Kepala Pasukan Kurdi

    Willy Haryono - 20 Oktober 2019 10:24 WIB
    Erdogan Ancam Hancurkan Kepala Pasukan Kurdi
    Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. (Foto: AFP)
    Kayseri: Presiden Recep Tayyip Erdogan menegaskan bahwa Turki akan meneruskan operasi militernya ke Suriah utara dan juga "menghancurkan kepala teroris" jika perjanjian dengan Amerika Serikat mengenai penarikan pasukan Kurdi dari wilayah dekat perbatasannya tidak diimplementasikan secara menyeluruh.

    Kamis kemarin, Erdogan dan Wakil Presiden AS Mike Pence menyepakati gencatan senjata di Suriah utara selama lima hari. Kesepakatan itu memberikan waktu kepada pasukan Kurdi untuk mundur dari "zona aman" yang ingin dibentuk Turki dekat wilayah yang berbatasan dengan Suriah.

    Dalam 36 jam terakhir, menurut klaim Kementerian Pertahanan Turki, terdapat 14 "serangan provokatif" dari Suriah. Baik AS dan juga Turki sama-sama menuduh adanya pelanggaran.

    "Jika perjanjian dengan AS terkait penarikan milisi YPG Kurdi berakhir gagal, Turki akan melanjutkan operasi militer," kata Erdogan, merujuk pada Unit Perlindungan Rakyat Kurdi yang dianggap Ankara sebagai teroris.

    "Namun jika perjanjiannya berhasil, maka kami akan menganggapnya berhasil. Jika tidak, kami akan menghancurkan kepala para teroris saat (gencatan senjata) berakhir," lanjut dia kepada para pendukungnya di provinsi Kayseri, dikutip dari CGTN, Minggu 20 Oktober 2019.

    Ankara menganggap YPG, komponen utama dari aliansi Pasukan Demokratik Suriah (SDF), sebagai grup teroris perpanjangan tangan dari Partai Pekerja Kurdi (PKK). PKK adalah kelompok yang telah memberontak di Turki selama bertahun-tahun.

    Jumat kemarin, milisi Kurdi menuduh Turki melanggar gencatannsenjata dengan menembakkan artileri ke area warga sipil, salah satunya di kota Ras al-Ain.

    Seorang pejabat senior Turki menyebut tuduhan tersebut sebagai upaya sabotase dari pihak Kurdi. "Turki 100 persen mendukung perjanjian gencatan senjata. Aneh rasanya jika kami melanggarnya begitu saja," ucap pejabat tersebut.

    Invasi Turki ke Suriah utara dimulai pada 9 Oktober, usai Presiden Donald Trump memerintahkan agar pasukan AS ditarik dari perbatasan dua negara tersebut. Trump menegaskan Turki-Suriah bukan "perbatasan kami" dan sudah saatnya pasukan AS untuk pulang.



    (WIL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id