Jual Rambut Senilai Rp27.500 Demi Makan Anak

    Arpan Rahman - 03 Februari 2020 20:13 WIB
    Jual Rambut Senilai Rp27.500 Demi Makan Anak
    Prema Selvam menjual rambutnya demi sesuap nasi untuk anak. Foto: BBC
    Tamil Nadu: Prema Selvam menjual rambutnya seharga 150 rupee setara Rp27.500 untuk memberi makan anak-anaknya yang masih kecil. Itu adalah hari terburuk dalam hidupnya.

    Ibu tiga anak ini kehilangan suaminya yang bunuh diri karena putus asa di tengah meningkatnya utang dan mimpi yang gagal. Meski begitu, janda itu masih memiliki harapan.

    Tetapi setelah menjual rambutnya, dia tetap tidak memiliki sisa uang, tidak ada cara membayar pengutang yang menuntut mereka, dan tidak ada makanan di lemari.

    Apa yang terjadi selanjutnya telah menginspirasi orang-orang di seluruh India.

    Tenggelam dalam utang


    Sebelum kematian suami, Prema dan suaminya bekerja di tempat pembakaran batu bata di negara bagian Tamil Nadu di India selatan, yang cukup untuk menyambung hidup bersama bagi keluarga muda mereka. Tapi mereka berharap lebih. Suaminya mengambil pinjaman untuk mulai membuat batu bata sendiri, tetapi rencananya gagal. Dalam saat putus asa tahun lalu, dia bunuh diri.

    Tekanan jatuh pada Prema. Tidak hanya harus mendapatkan cukup uang untuk memberi makan, pakaian, dan juga rumah bagi ketiga anaknya. Tetapi juga buat membayar kembali uang yang mereka utangkan demi usaha bisnis yang gagal. Sesaat dia berhasil, membawa kedua bungsunya bekerja bersamanya.

    "Ketika saya pergi bekerja, saya mendapatkan 200 rupee setara Rp38.500 per hari, yang cukup untuk menghidupi keluarga kami," Prema menjelaskan kepada BBC.

    Tetapi dia jatuh sakit, hingga tidak bisa mendapatkan banyak uang. "Saya tidak bisa membawa banyak batu bata. Saya tinggal di rumah hampir sepanjang waktu karena demam," tuturnya. 

    Dia sakit selama tiga bulan -- di ujung mana tagihan utang telah mencekik, dan lemari makan kosong melompong.

    "Putra saya yang berumur tujuh tahun, Kaliyappan, kembali dari sekolah dan meminta makanan," kenangnya. "Lalu dia mulai menangis karena kelaparan."

    Prema tidak memiliki properti, perhiasan, barang berharga, atau peralatan dapur yang bisa ditukar dengan uang tunai.

    "Saya bahkan tidak membawa uang kertas 10 rupee (setara Rp2.000). Saya hanya punya beberapa ember plastik."

    Kemudian dia menyadari dia memiliki sesuatu yang bisa dia jual.

    "Saya ingat sebuah toko yang dulu membeli rambut," kata Prema, langsung memikirkan rambutnya sendiri. India adalah salah satu pengekspor utama rambut manusia di dunia, yang dijual di seluruh dunia untuk membuat wig. Beberapa umat Hindu mempersembahkan rambut mereka di kuil ketika doa-doa mereka diijabah.

    "Saya pergi ke sana dan menjual seluruh rambut saya seharga 150 rupee (setara Rp27.500)," ujar dia, dirilis dari BBC, Senin 3 Februari 2020.

    Jumlah itu mungkin kedengarannya tidak banyak -- uang yang didapatnya mungkin hanya bisa membeli makan siang di sebuah restoran di kota besar -- tetapi di desanya, Prema bisa membeli lebih banyak.

    "Saya mendapat tiga bungkus nasi yang dimasak, masing-masing seharga 20 rupee, untuk tiga anak saya," katanya.

    Tapi jeda itu hanya sementara: Prema tahu dia kehabisan pilihan, dan pikirannya mulai beralih ke langkah-langkah yang lebih drastis.

    Keputusasaan


    Dia pergi ke sebuah toko di mana dia berharap menemukan sesuatu untuk mengakhiri hidupnya. Tetapi, melihat keadaannya yang tertekan dan menyadari rencananya, penjaga toko menolak untuk menjual apa pun padanya.

    Prema pulang ke rumah dan memutuskan untuk mencari cara lain untuk mengambil nyawanya sendiri. Dia diselamatkan oleh saudara perempuannya, yang tinggal di lingkungan itu dan kebetulan datang tepat waktu untuk menghentikannya.

    Kemudian, hanya beberapa hari berselang, bantuan yang sangat dibutuhkannya muncul tiba-tiba.

    Bala Murugan mendengar tentang situasi Prema dari seorang teman yang memiliki tempat pembakaran batu bata lokal. Itu langsung mengejutkan: perjuangannya mengingatkannya pada saat paling gelap keluarganya. Bala tahu betul bagaimana kemiskinan dapat membuat orang putus asa -- pada usia 10 tahun, keluarganya kehabisan makanan. Ibunya menjual buku-buku dan koran-koran lama mereka dengan berat untuk membeli beras.

    Dalam keadaan putus asa, ibu Bala memutuskan bunuh diri dan anak-anaknya. Dia berubah pikiran pada saat terakhir: keluarga membawa ibu mereka ke dokter, dan dia diselamatkan.

    Bala sekarang hidup dalam dunia yang jauh dari situasi di mana ia dibesarkan. Setelah bertahun-tahun berjuang, ia berhasil keluar dari kemiskinan dan sekarang memiliki pusat grafis komputer.

    Dia memiliki kesempatan untuk membayar kekayaannya sendiri ke depan: Bala memberi tahu Prema tentang perjuangannya dan mendorongnya untuk menemukan harapan. Bersama temannya, Prabhu, dia memberinya sejumlah uang untuk membeli makanan. Kemudian Bala menulis tentang keluarga itu di media sosial.

    "Dalam sehari saya mendapat 120.000 rupee (atau Rp22,9 juta). Ketika saya memberi tahu Prema tentang hal itu, dia sangat senang dan mengatakan itu cukup untuk membayar kembali sebagian besar pinjamannya," katanya kepada BBC.

    Tetapi atas permintaan Prema, penggalangan dana dihentikan. "Dia bilang dia akan kembali ke pekerjaannya dan membayar sisanya," Bala menjelaskan.

    Dia sekarang harus membayar kembali sekitar 700 rupee sebulan -- sekitar USD10 atau setara Rp137.578) -- kepada kreditor yang berbeda, sementara pejabat distrik telah turun tangan dan berjanji membantunya mendirikan dealer yang menjual susu.

    Prema perlahan bangkit kembali, tetapi, sayangnya, kondisi keuangannya jauh dari mencukupi. Terlepas dari pertumbuhan ekonomi India, jutaan orang seperti dia berjuang untuk meletakkan makanan di atas meja.

    Menurut Bank Dunia, India adalah hunian bagi jumlah terbesar kedua orang yang hidup dalam kemiskinan ekstrem -- diklasifikasikan sebagai mereka yang berpenghasilan kurang dari USD1,90 setara Rp26.000 per hari.

    Prema memiliki hambatan lain: dia tidak bisa membaca atau menulis, seperti puluhan juta orang India lainnya.

    Akibatnya, dia tidak menyadari skema pemerintah yang memberikan bantuan kepada orang-orang seperti dia. Sementara itu, sistem perbankan formal negara ini memiliki aturan kompleks, yang membuat sulit bagi masyarakat miskin untuk mengakses kredit dengan suku bunga rendah. Alih-alih, Prema dan suaminya meminjam dari pemberi pinjaman uang lokal dan tetangga dengan bunga yang lebih tinggi -- membuatnya semakin terjerat dalam utang.

    Namun berkat kedermawanan komunitasnya, dia bisa melihat jalan keluar dari lingkaran kemiskinan yang membuatnya terus terperangkap. Bala Murugan, sementara itu, telah meyakinkan keluarga akan dukungannya yang berkelanjutan.

    "Sekarang saya sadar bunuh diri adalah keputusan yang salah," katanya. "Saya yakin akan mengembalikan sisa pinjaman," tandasnya.



    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id