Kritik Presiden Tiongkok Terkait Korona, Aktivis Ditangkap

    Fajar Nugraha - 18 Februari 2020 18:08 WIB
    Kritik Presiden Tiongkok Terkait Korona, Aktivis Ditangkap
    Seorang pasien terinfeksi virus korona yang dinyatakan sembuh dan keluar dari rumah sakit. Foto: AFP
    Beijing: Polisi di Tiongkok telah menangkap seorang aktivis terkemuka yang telah menjadi buron selama berminggu-minggu. Aktivis itu mengkritik penanganan Presiden Xi Jinping terhadap epidemi virus korona.

    “Aktivis antikorupsi Xu Zhiyong ditangkap pada hari Sabtu setelah melarikan diri sejak Desember,” menurut Amnesty International.

    Kematian seorang dokter yang menemukan virus korona, ditegur oleh polisi karena meningkatkan kepanikan tentang virus baru yang mematikan. Kematian dokter itu sendiri memicu seruan langka untuk reformasi politik dan kebebasan berbicara.

    "Pertempuran pemerintah Tiongkok melawan virus korona sama sekali tidak mengalihkannya dari kampanye umum yang sedang berlangsung untuk menghancurkan semua suara yang berselisih," kata Patrick Poon, peneliti Tiongkok di Amnesty International, dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip AFP, Selasa, 18 Februari 2020.

    Sumber lain, yang berbicara kepada AFP dengan syarat anonim, mengatakan Xu telah ditangkap di kota Guangzhou selatan. Polisi Guangzhou menolak berkomentar mengenai penangkapan ini.

    Xu bersembunyi setelah pihak berwenang membubarkan pertemuan para intelektual Desember yang membahas reformasi politik di kota pantai timur Xiamen di provinsi Fujian, sebelum krisis virus korona COVID-19.

    “Puluhan pengacara dan aktivis ditahan atau menghilang setelah pertemuan Xiamen, menurut kelompok-kelompok hak asasi manusia - dan penahanan Xu tampaknya terkait dengan kehadirannya dalam pertemuan itu,” jelas Poon.

    Tetapi saat dalam pelarian, Xu terus memposting informasi di Twitter tentang masalah hak. Pada 4 Februari, Xu merilis sebuah artikel yang menyerukan agar Xi mundur dan mengkritik kepemimpinannya dalam berbagai masalah termasuk perang dagang AS-Tiongkok, protes pro-demokrasi Hong Kong dan epidemi virus korona, yang kini telah menewaskan 1.873 jiwa.

    "Persediaan medis sangat terbatas, rumah sakit dipenuhi pasien, dan sejumlah besar orang yang terinfeksi tidak memiliki cara untuk didiagnosis. Ini berantakan,” tulisnya.

    "Wabah virus korona menunjukkan betapa pentingnya nilai-nilai seperti kebebasan berekspresi dan transparansi nilai-nilai persis yang telah lama dianjurkan oleh Xu," ucap Yaqiu Wang, peneliti Tiongkok di Human Rights Watch, mengatakan kepada AFP.

    “Tetapi hilangnya Xu menggambarkan bagaimana Tiongkok bertahan dengan cara lama dengan membungkam pengkritiknya", katanya.

    Xu - yang mendirikan sebuah gerakan yang menyerukan transparansi yang lebih besar di antara para pejabat tinggi - sebelumnya menjalani hukuman penjara empat tahun dari 2013 hingga 2017 karena mengorganisir "pertemuan ilegal".

    "Bahwa dia buron selama berhari-hari sambil terus berbicara, itu sendiri adalah semacam tantangan bagi (otoritas Tiongkok),” kata Hua Ze, seorang teman lama Xu.



    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id