Menu RI Jadi Sorotan di Kompetisi Kuliner Internasional YCO

    Willy Haryono - 05 Februari 2020 06:00 WIB
    Menu RI Jadi Sorotan di Kompetisi Kuliner Internasional YCO
    Indonesia untuk kali pertama mengikuti kompetisi kuliner Young Chef Olympiad. (Foto: KBRI New Delhi)
    Kolkata: Untuk pertama kalinya, Indonesia mengikuti salah satu ajang kompetisi kuliner terbesar di dunia, 6th International Young Chef Olympiad (YCO) 2020. Kompetisi diselenggarakan oleh International Institute Hotel Management (IIHM), India, dari tanggal 29 Januari hingga 2 Februari 2020 di empat kota besar India, yakni New Delhi, Bangalore, Goa, Pune dan berakhir di Kolkata.

    Dua orang wakil dari setiap negara, terdiri dari satu orang juru masak dan seorang mentor dari 55 negara dari kawasan Asia Pasifik, Afrika hingga Eropa, saling unjuk kebolehan dalam memamerkan keterampilan mereka dari berbagai compulsory course yang diberikan oleh juri. Setinggi apapun keterampilan para peserta mereka justru diuji kemampuan dasar. Misalnya, dengan bahan dasar ayam, mereka harus bisa menunjukkan hasil yang terbaik mulai dari persiapan, proses pengolahan, penyajian, dan cita rasanya. 

    Chef muda asal Bandung, Hanif Muhammad Adhipradnya (20 tahun), mahasiswa semester 5 jurusan Tata Boga dari Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Bandung yang dulunya dikenal dengan NHI, didampingi oleh Ibu Ayu Nurwitasari sebagai mentor, mewakili Indonesia di ajang kompetisi kuliner bergengsi ini. Sejak tiba di India, mereka harus berjuang menampilkan yang terbaik untuk menarik perhatian para juri dengan disiplin tinggi. 

    Tidak tanggung-tanggung, 18 juri dari India dan luar negeri dihadirkan, di antaranya Prof. David Foskett, penulis buku best-selling “Practical Cookery Series”; Sanjeev Kapoor, India’s most celebrated chef; Chris Galvin, Michelin-starred chef-patron of Galvin Restaurants; Priya Paul, Chairperson Apeejay Surrendra Park Hotels Limited; Brian Turner, President of the Royal Acadmy of Culinary Art, dan Prof. Ron Scott dari International Hospitality Educator & Secretary, IHC, London.  Mereka didatangkan tidak sekedar untuk memberi penilaian, tapi juga memberikan pelatihan yang berorientasi kepada pengembangan Chef Personality Development dan Culinary Arts. 

    Ajang YCO yang digelar sejak 2015 diperuntukkan bagi chef muda berusia 18 hingga 23 tahun. Para peserta dibagi menjadi empat kelompok berbeda yang digelar di empat negara bagian di India, yakni New Dehi, Bangalore, Goa, dan Pune. 

    Dibuka secara resmi di New Delhi pada 28 Januari dan semua peserta dari 4 kota tersebut berakhir di Kolkata pada 2 Februari 2020. Acara penutup dihadiri para chef ternama, akademisi, dan pelaku industri kuliner dari India maupun luar negeri.

    Mengusung nilai-nilai "Sustainability and Uniting the World through Culinary Arts," YCO 2020 mempunyai visi untuk membangun people-to-people contact dan persahabatan dunia melalui cita rasa kuliner. Ajang ini tidak sekadar mencari siapa yang menang dan kalah, tapi merupakan platform bagi para pelajar chef untuk mempersiapkan diri menjadi seorang chef yang profesional melalui peningkatan pemahaman Culinary Arts yang luas, sehingga karya-karyanya nantinya bisa menjadi masterpiece dalam industri kuliner dan bermanfaat bagi orang banyak.   

    Menurut Dr. Suborno Bose yang merupakan Chairman YCO Global Council, untuk pertama kalinya tema yang diangkat pada YCO 2020 sejalan dengan fokus global saat ini, yakni United Nations Sustainable Development Goals (SDGs). Setelah suksesnya YCO 2020, ajang YCO 2021 mendatang akan diselenggarakan dengan kapasitas yang lebih besar lagi dengan target 70 negara partisipan.

    "Kompetisi ini sangat berbeda dari yang sebelumnya pernah saya ikuti, selain kapasitas partisipasi yang besar, tingkat kesulitannya juga cukup menantang. Kita dituntut untuk mampu beradaptasi dengan cepat dari bahan-bahan yang terbatas dan lumayan asing," ujar chef Hanif, dalam keterangan tertulis KBRI New Delhi yang diterima Medcom.id, Selasa 4 Februari 2020.

    "Hal penting lainnya bahwa kami diberikan ruang yang luas untuk saling berinteraksi, bisa berbagi ilmu dan bertukar ide. Jadi tidak cuma lomba masak saja, dari sini kami bisa membangun networking untuk masa depan yang lebih baik," lanjutnya.

    Masih menurut Hanif, perbedaan lain di YCO 2020 dengan kompetisi di Tanah Air adalah lebih kepada penyempurnaan metode dasar pembuatan dan penyajian suatu menu. "Sejak hari pertama kita mainnya di basic terus. Kalau di Indonesia, mainnya sudah ke arah advance dan modifikasi chemical sebagai bahan pembuat makanan," tutur chef Hanif.

    "Jadi ini positif banget buat kami untuk memperkuat metode basic yang benar supaya waktu pengembangan atau modifikasi tidak keluar dari otentisitas menu tersebut. Secara keseluruhan banyak ilmu yang saya dapat dari sini," sambungnya.

    Ayu Nurwitasari selaku mentor chef Hanif menilai ajang YCO 2020 efektif untuk meningkatkan mental dan pengembangan kemampuan peserta yang relatif masih berusia muda. Meski baru pertama kali ikut kegiatan ini, menu Indonesia mendapat sorotan positif dari para juri. "Ini penting bagi kita untuk ke depannya bisa menampilkan yang terbaik, dengan persiapan yang lebih baik," sebut Ayu. 

    Agenda lain yang termasuk strategis dan efektif pada setiap YCO adalah adanya Class Session bagi para mentor untuk presentasi di sekolah. Indonesia diberi kesempatan untuk presentasi di salah satu sekolah swasta di daerah Noida. 

    Selain itu juga diagendakan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara IIHM dengan para peserta baru, termasuk STP Bandung yang dilakukan pada 1 Februari 2020 di IIHM Global Campus Kolkata. Namun, ada juga yang melakukan perpanjangan MoU. 

    Atase Pendidikan KBRI New Delhi, Lestyani Yuniarsih, yang hadir untuk mendampingi dan memberikan dukungan kepada tim Indonesia menilai, bahwa kegiatan YCO 2020 merupakan ajang yang sangat baik untuk bisa terus diikuti oleh Indonesia dalam rangka melahirkan chef-chef muda Indonesia yang profesional untuk mampu membawa dan mempopulerkan kekayaan khazanah kuliner Nusantara ke level internasional. 

    Selain itu, YCO juga merupakan kesempatan yang sangat bagus untuk mereka saling belajar di antara sesama peserta dengan latar belakang yang sangat beragam dan ajang yang bagus untuk mulai membangun jejaring para chef muda dari berbagai Negara, serta mengulik dan berbagi pengalaman mereka. 

    "KBRI New Delhi akan mendukung sepenuhnya keikutsertaan wakil Indonesia di ajang ini, karena dengan partisipasi ini cita rasa kuliner Indonesia akan semakin dikenal oleh negara-negara lain, dan ini merupakan salah satu bagian dari soft diplomacy yang patut didukung," ujar Lestyani. 

    Nasi Kuning Jogja dan Ayam Bakar Bumbu Rujak Dipuji Habis-habisan

    Chef muda Hanif dengan berkolaborasi bersama mentor, Ibu Ayu Nurwitasisari, telah sukses membuat para juri dan para mentor terkesima dengan kelezatan menu Nasi Kuning Jogja dan Ayam Bakar Bumbu Rujak yang ditampilkan pada sesi United World of Young Chef yang merupakan food festival bagi semua peserta (tidak dinilai), yang diselenggarakan di Hyatt Hotel Kolkata. 

    Nasi kuning khas Jogja yang disajikan dengan potongan daging ayam yang dimasak dengan bumbu khas yang halus bercita rasa pedas dan manis. Harumnya aroma ayam bakar bumbu rujak dan tambahan kering tempe, serundeng, serta kerupuk udang dan emping melinjo menuai pujian para penguji. Ini membuktikan kalau menu Indonesia dapat diterima oleh berbagai kalangan dan mampu bersaing.

    Meski saat ini belum mampu meraih juara pada pada ajang YCO 2020, namun setidaknya wakil Indonesia berkesempatan menimba ilmu sebanyak-banyaknya. Pengalaman pertama ini dapat dijadikan evaluasi untuk mempersiapkan diri lebih awal dan lebih baik untuk partisipasi mendatang, agar mampu tampil maksimal dan meraih hasil yang memuaskan.

    Pemenang YCO 2020 di antaranya Inggris yang meraih perunggu, Perak oleh Filipina dan untuk kali ketiga medali emas kembali diraih Malaysia setelah sebelumnya menjadi juara di tahun 2015 dan 2018.

    Menurut Mentor dari tim Malaysia, Sharizan Azali bin Mohamed Zamzuri, keberhasilan yang diraih oleh chef Chen Khai Loong, yang akrab dipanggil Alan, merupakan hasil dari buah ketekunan, kesabaran, dan kedisiplinannya yang telah berlatih sejak satu bulan sebelum mengikuti ajang YCO 2020, namun dengan jadwal yang sangat terstruktur dan sangat ketat. Keduanya berasal dari Taylor’s University of Malaysia.



    (WIL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id