Sering Beda Pendapat dengan AS, Rusia Kedepankan Dialog

    Willy Haryono - 18 Desember 2019 18:00 WIB
    Sering Beda Pendapat dengan AS, Rusia Kedepankan Dialog
    Menlu Rusia Sergey Lavrov (kiri) berjabat tangan dengan Menlu AS Mike Pompeo di Washington, 10 Desember 2019. (Foto: AFP)



    Jakarta: Amerika Serikat dan Rusia merupakan dua negara besar yang dikenal sering berselisih paham dalam berbagai isu global. Beberapa di antaranya adalah perang sipil di Suriah, program nuklir Korea Utara hingga konflik di Ukraina timur.

    Kendati begitu, Rusia menegaskan tetap mengedepankan dialog sebagai opsi utama dalam menyelesaikan masalah dengan AS. Hal ini terlihat dari kunjungan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov ke Washington pada 10 Desember lalu.

     



    "Meski kami punya banyak perbedaan, Rusia dan AS tetap menjaga dialog," ucap Wakil Duta Besar Rusia untuk Indonesia Oleg V. Kopylov kediaman misi diplomatik Rusia di Jakarta, Rabu 18 Desember 2019.

    Dalam kunjungan ke Washington, Lavrov bertemu Menlu AS Mike Pompeo dan juga Presiden Donald Trump. Pertemuan Lavrov dan Trump tertutup untuk semua media.

    Bersama Pompeo, Lavrov membahas beragam isu dan tantangan global. Keduanya kemudian berjanji untuk berkolaborasi secara efektif dalam menjaga stabilitas strategis, keamanan global dan lainnya.

    Untuk mendorong lebih banyak dialog, Presiden Rusia Vladimir Putin telah mengundang Trump untuk menghadiri perayaan Victory Day pada 9 Mei 2020. Undangan itu telah disampaikan Putin kepada Trump di sela-sela KTT G20 pada Juni lalu.

    "Kami berharap jika kesempatan (pertemuan Trump dan Putin di Rusia) itu muncul, pertemuan bilateral dalam skala besar dapat terwujud," tutur Kopylov, mengutip ucapan Lavrov.

    Banyak perbedaan pandangan bukan berarti tidak ada kesamaan sama sekali. Kopylov mengatakan ada satu bidang yang sama-sama disepakati Rusia dan AS, yakni perang melawan terorisme global.

    "Rusia dan AS tetap berkomitmen menghadapi terorisme global. Kami terus melanjutkan dialog di bidang ini dalam format working group.

    Sementara mengenai perang sipil Suriah, Kopylov mengatakan bahwa konflik yang telah berlangsung selama lebih dari 8 tahun itu tidak bisa diselesaikan hanya oleh beberapa pihak. "Kami selalu menggarisbawahi bahwa semua kubu terkait (perang sipil Suriah) harus dilibatkan dan bekerja bersama," ungkap Kopylov.

    (WIL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id