Dubes Iran Sebut Ketegangan di Timur Tengah Ciptaan Barat

    Marcheilla Ariesta - 27 Juli 2019 21:21 WIB
    Dubes Iran Sebut Ketegangan di Timur Tengah Ciptaan Barat
    Kapal supertanker Grace 1 milik Iran. (Foto: AFP)
    Jakarta: Ketegangan yang terjadi belakangan ini di Timur Tengah, terutama di Teluk Persia atau Teluk Arab, dinilai Iran hanya merupakan rekayasa negara Barat. Teheran menilai Barat sengaja berbuat demikian untuk menggoyang perdamaian dan stabilitas di perairan Teluk demi tujuan tertentu. Demikian pandangan Duta Besar Iran untuk Indonesia Valiollah Mohammadi.

    "Ketegangan atau persoalan yang sedang terjadi di Teluk Persia menurut saya sebuah ketegangan yang dibuat-buat. Republik Islam Iran berpendapat bahwa keamanan dan ketertiban di kawasan Teluk Persia harus diatur dan dijaga oleh negara-negara yang berada di kawasan tersebut," ungkapnya kepada awak media di acara perpisahannya, Jakarta, Sabtu, 27 Juli 2019.

    Dia menegaskan Iran merupakan negara terbuka dan damai. Iran menilai solusi atas konflik di Teluk Persia hanya bisa dicapai melalui dialog dan kerja sama. Sayangnya, media-media asing dinilai Iran justru membuat konflik semakin memanas.

    Salah satu pemicu utama terjadinya ketegangan di Teluk Persia adalah saat Amerika Serikat menarik diri dari perjanjian nuklir 2015. Dubes Valiollah mengatakan AS menarik diri secara sepihak, padahal Iran tidak berbuat kesalahan apapun dan tetap tunduk pada perjanjian.

    Tidak hanya menarik diri, AS juga menjatuhkan rangkaian sanksi ekonomi kepada Iran. Teheran tidak habis pikir mengapa AS bisa melakukan tindakan seperti itu.

    Merasa diperlakukan tidak adil oleh AS, Iran telah memutuskan untuk mengurangi komitmennya terhadap perjanjian yang sama, yakni Joint Comprehensive Plan of Action atau JCPOA. Iran mengaku akan menambah dan memperkaya pasokan uranium yang sebelumnya telah diatur di JCPOA.

    Baca: Ikuti Ucapan Trump, Iran Sebut AS 'Bermain dengan Api'

    Dubes Valiollah menegaskan Iran akan konsisten mengurangi komitmen terhadap JCPOA, jika negara-negara Eropa tak segera mencari solusi untuk membantu Teheran mengatasi sanksi ekonomi AS.

    "Setelah satu tahun penarikan diri AS, Iran merasa sudah saatnya untuk mengurangi komitmen terhadap JCPOA. Kami memberi waktu 60 hari untuk negara lainnya yang tergabung dalam kesepakatan itu untuk bertindak dan mengatasi persoalan yang dihadapi," tutur Dubes Valiollah.

    Ia Valiollah memaparkan Iran telah melakukan dua tahap pengurangan komitmen JCPOA. Pertama, Iran menyatakan telah memperbanyak pasokan uranium melampaui batasan JCPOA. Kedua, Teheran juga memperkaya konsentrasi uranium melebihi batas 3,67 persen yang disepakati bersama dalam JCPOA.

    Pelanggaran yang disengaja ini disebut Iran akan segera dibatalkan jika negara-negara Eropa mau membantu. "Kalau komitmen negara-negara lain yang tergabung JCPOA terpenuhi, kami akan kembali ke ketentuan yang tercantum di kesepakatan tersebut," jelasnya.

    Selain Iran dan AS, Tiongkok, Prancis, Jerman, Rusia, serta Inggris menjadi pihak penandatangan JCPOA.

    Meski JCPOA berada di titik rawan, Dubes Valiollah menegaskan hubungan Iran dengan negara-negara Eropa tetap berjalan baik. Ia menyebut Iran hanya bermasalah dengan satu negara penandatangan JCPOA, yakni AS.

    "Kami sampaikan kepada AS, kalau mereka kembali berkomitmen kepada kesepakatan nuklir 2015, mereka dapat bergabung kembali dengan komite JCPOA dan negosiasi dapat berlanjut," ungkapnya.

    Dubes Iran Sebut Ketegangan di Timur Tengah Ciptaan Barat
    Dubes Valiollah (kanan) di Kedubes Iran di Jakarta. (Foto: Medcom.id/Marcheilla Ariesta)

    Hubungan Iran dan Inggris

    Masalah lain di Teluk Persia selain JCPOA adalah penyitaan kapal tanker, yang berlangsung antara Iran dan Inggris. Inggris telah menyita tanker minyak Iran di perairan Gibraltar pada awal Juli, yang kemudian diikuti penyitaan 'balasan' belakangan ini.

    Inggris menyita kapal Grace 1 dengan tuduhan hendak mengangkut minyak menunju kilang di Suriah. Sementara Iran menahan tanker Stena Impero atas alasan "melanggar aturan internasional."

    "Dapat kami sampaikan bahwa tanker minyak kami, Grace 1, adalah supertanker. Jadi, tidak ada pelabuhan mana pun di Suriah yang mampu menampung tanker sebesar itu," jelasnya.

    Inggris, kata Dubes Valiollah, menyita tanker minyak itu dengan kekerasan dan penuh paksaan. Padahal, lanjutnya, seharusnya hal itu dapat dikomunikasikan secara lebih bersahabat. Dia mengklaim AS merupakan pihak yang dianggap mendorong Inggris agar bertindak lebih agresif terhadap Iran.

    "Setelah tanker kami disita Inggris, Penasihat Keamanan Nasional AS John Bolton senang dan mengucapkan selamat kepada Inggris. Dari situ dapat dilihat pihak mana yang bertanggung jawab atas kebijakan Inggris yang belakangan ini menjadi sesat," kata Dubes Valiollah/

    AS disebut Dubes Valiollah terlihat lebih intens memanas-manasi situasi terkait penyitaan tanker, bahkan melebihi Inggris yang terlibat secara langsung. Menurut Valiollah, hal ini memperlihatkan bahwa AS berniat membuat koalisi untuk melawan Iran.

    Koalisi tersebut merujuk pada pernyataan Ketua Gabungan Kepala Staf AS Jenderal Joseph Dunford, yang pada awal Juli menyatakan bahwa Washington ingin membentuk koalisi militer multinasional demi melindungi perairan di sekitar Iran dan Yaman. Dunford mengatakan dia ingin memastikan kebebasan navigasi di wilayah itu, yang merupakan rute perdagangan penting.

    Dubes Iran Sebut Ketegangan di Timur Tengah Ciptaan Barat
    Kapal tanker Stena Impero. (Foto: AFP)

    Baca: Iran Tak Bermaksud Mencari Konfrontasi dengan Inggris

    Peran Penting Media

    Untuk menjaga stabilitas Timur Tengah, Dubes Valiollah menilai media memiliki peranan yang sangat penting. Dia menyayangkan bahwa pemberitaan sejumlah media besar di dunia Barat terlihat seolah memojokkan Iran.

    Padahal, kata dia, ketegangan di kawasan secara langsung ataupun tidak telah membuat harga minyak bumi melambung.

    "Pasti teman-teman semua mengetahui bahwa 60 persen dari energi dunia disuplai atau dipasok dari kawasan kami. Ketika kawasan kami berada di bawah ketegangan, maka harga minyak bumi menjadi naik, dan ketegangan ini akan berdampak kepada semua negara di dunia," pungkas dia.



    (WIL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id