Jokowi akan Bahas Kelanjutan IA-CEPA di Australia

    Marcheilla Ariesta - 06 Februari 2020 15:09 WIB
    Jokowi akan Bahas Kelanjutan IA-CEPA di Australia
    Presiden Joko Widodo (Foto:MI/Ramdani)
    Jakarta: Presiden Joko Widodo dijadwalkan melakukan kunjungan ke Australia pada 9 dan 10 Februari mendatang. Kunjungan kenegaraan ini merupakan bagian dari pertemuan tahunan pemimpin kedua negara tersebut.

    Pelaksana Tugas Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Teuku Faizasyah mengatakan salah satu yang akan dibahas kedua pemimpin adalah ratifikasi Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA).

    "Kita juga sama-sama memaklumi memasuki tahap akhir proses ratifikasi IA-CEPA. Akan ada peluncuran plan of action sebagai acuan pelaksanaan comprehensive strategic partnership," tuturnya di Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Kamis 6 Februari 2020.

    Faizasyah mengatakan penyelesaian ratifikasi ini merupakan salah satu yang ditunggu kedua negara. Dia menambahkan, ratifikasi dari sisi Australia sudah selesai, sementara dari Indonesia sudah memasuki tahap terakhir.

    "Mudah-mudahan begitu tahap akhir selesai, langkah yang kita sebutkan plan of action yang kita tunggu bisa cepat (selesai)," kata dia.

    Sementara itu, Direktur Asia Timur dan Pasifik Santo Darmosumarto mengatakan, selain membahas IA-CEPA, kedua pemimpin juga rencananya akan membahas peningkatan kerja sama perdagangan dan investasi.

    "Isu-isu tersebut telah menjadikan kunjungan ini penting bagi hubungan bilateral kedua negara," imbuhnya.

    Sore ini, rencananya Dewan Perwakilan Rakyat RI dijadwalkan akan mengesahkan UU IA-CEPA. IA-CEPA telah ditandatangani pada Maret 2019 silam oleh Menteri Perdagangan dalam Kabinet Kerja Jokowi-JK Enggartiasto Lukita dan Menteri Perdagangan Pariwisata, dan Investasi Australia Simon Birmingham.

    Dalam perjanjian itu, Indonesia akan memangkas bea impor 94 persen untuk produk asal Negeri Kanguru secara bertahap. Sebagai gantinya, 100 persen bea masuk produk asal Indonesia yang masuk ke Australia akan dihapus.

    Tentunya hal ini akan menguntungkan Australia. Sebab, sudah sejak lama neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit yang besar dengan Australia. Bahkan pada 2017, defisitnya mencapai USD3,49 miliar.

    Komoditas utama asal Australia yang masuk sebagai barang impor adalah golongan barang dengan kode HS 27, yaitu bahan bakar mineral, yang mana tercatat masuk senilai USD1,64 miliar pada 2017.




    (WAH)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id