Terisolasi di Kampus, Mahasiswa Hong Kong Masih Bertahan

    Fajar Nugraha - 22 November 2019 07:57 WIB
    Terisolasi di Kampus, Mahasiswa Hong Kong Masih Bertahan
    Mahasiswa Hong Kong Polytechnic University masih bertahan di kampusnya. Foto: AFP
    Hong Kong: Di dalam sebuah kampus yang semakin kosong dan berantakan, segelintir aktivis masih bertahan dari terjangan pihak keamanan. Pada Kamis 21 November, mereka semakin putus asa mencari cara untuk melarikan diri atau bersembunyi dari pihak keamanan.

    Sebagian besar wilayah Hong Kong Polytechnic University, sepi tanpa ada kehidupan. Umumnya kampus ini dipenuhi hingga 33.000 mahasiswa, dosen dan staf terutama di tahun ajaran baru.

    Ratusan pedemo telah memperkuat pengamanan kampus dan terlibat dalam pertempuran jalanan dengan polisi antihuru hara awal pekan ini.

    Tetapi sekarang jumlah pedemo berkurang menjadi kurang dari 100 orang. Mengubah pekarangan kampus menjadi kompleks kosong yang menakutkan dan disertai puing-puing dan dipenuhi slogan-slogan politik.

    Sampah dan puing-puing dari bom bensin buatan sendiri berserakan di halaman. Banyak pengunjuk rasa telah meninggalkan peralatan mereka, termasuk masker gas dan payung.

    Banyak bagian dari kampus yang rusak, dengan ruangan kelas  dirusak dan jendela hancur. Namun listrik dan air masih berfungsi. Di perpustakaan, sebagian besar buku tidak tersentuh tetapi bom bensin sementara dibiarkan di atas meja.

    Para pengunjuk rasa tampaknya kalah jumlah oleh media dan orang-orang berharap untuk bantuan, termasuk beberapa staf universitas, kelompok rohaniwan Katolik, dan kepala sekolah dari sekolah menengah mencari untuk setiap anak-anak masih bertahan.

    Seorang pendeta Katolik mengatakan kelompoknya mendapati para pengunjuk rasa yang tersisa sebagian besar tidak mau terlibat.

    Beberapa pengunjuk rasa mengatakan, mereka keluar bukan untuk konfrontasi dengan polisi, tetapi karena mereka tidak bersalah dan mencari jalan keluar.

    "Saya tidak akan mempertimbangkan untuk menyerah. Menyerahkan diri adalah untuk orang-orang yang bersalah. Tidak seorang pun di antara kita yang bersalah," kata Michelle, seorang mahasiswa berusia 20 tahun, di kampus yang berlokasi di semenanjung Kowloon, seperti dikutip Channel News Asia, Jumat, 22 November 2019.

    Lebih dari 1.000 pedemo yang mencoba pergi lebih awal minggu ini ditangkap, dan sebagian besar dari mereka yang tetap mengatakan berharap untuk menghindari ditangkap karena kerusuhan atau atas tuduhan lainnya.

    Hong Kong memiliki jeda singkat dari aksi demonstrasi yang sering berakhir dengan kekerasan. Selama dua hari terakhir kondisi kota relatif tenang, menjelang pemilihan Dewan Distrik ditetapkan untuk Minggu.

    Pemerintah mengatakan Rabu malam bahwa pihaknya sedang memantau situasi untuk melihat apakah pemilihan dapat diadakan dengan aman.

    Hong Kong Polytechnic University adalah kampus terakhir yang masih ditempati oleh para aktivis selama seminggu. Kampus ini menjadi saksi kekerasan paling hebat sejak demonstrasi antipemerintah meningkat lebih dari lima bulan lalu.



    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id