Tertembak, Jurnalis Indonesia Alami Buta Permanen

    Fajar Nugraha - 02 Oktober 2019 19:58 WIB
    Tertembak, Jurnalis Indonesia Alami Buta Permanen
    Jurnalis Indonesia Veby Mega Indah yang terkena tembakan di bagian mata kanan. Foto: SCMP
    Hong Kong: Veby Mega Indah, jurnalis Indonesia yang terkena luka tembak di bagian mata oleh polisi Hong Kong, kehilangan penglihatannya. Hal ini dipastikan oleh keterangan pengacara Veby, Michael Vidler.

    "Dokter yang merawat (Veby Mega) Indah hari ini memberitahunya bahwa sayangnya cedera yang dialaminya akibat ditembak oleh polisi, mengakibatkan kebutaan permanen di mata bagian kanan," kata Michael Vidler, seperti dikutip Hong Kong Free Press, Rabu, 2 Oktober 2019.

    “Dia diberi tahu bahwa pupil matanya pecah oleh kekuatan benturan. Persentase pasti dari kerusakan permanen hanya dapat dinilai setelah operasi,” imbuh Vidler.

    Foto menunjukkan bahwa Veby -,editor media Suara Hong Kong News,- mengenakan rompi dengan warna mencolok, helm dengan tanda ‘pers’, pelindung mata, dan berdiri di samping staf media lain. Dia terkena tembakan peluru karet ketika dia melakukan live streaming Facebook.

    Insiden penembakan ini terjadi di sebuah jembatan dekat stasiun MTR Wan Chai. Veby tersungkur usai menderita luka tembak itu.

    Dia tetap sadar dan dirawat oleh pertolongan pertama di tempat kejadian. Dia kemudian dikirim ke Rumah Sakit Pamela Youde Nethersole Eastern.

    Vidler mengatakan bahwa keluarganya tetap di sisinya: "Kami juga dapat mengonfirmasi bahwa kami telah menerima bukti dari pihak ketiga, yang menunjukkan bahwa proyektil yang membutakan Veby adalah peluru karet dan bukan semacam kacang seperti yang diperkirakan pada awalnya."

    Pada Senin, Asosiasi Jurnalis Hong Kong (HKJA) mengatakan sangat prihatin dengan insiden itu.

    “Kami sangat prihatin dengan laporan bahwa cedera itu disebabkan oleh peluru karet atau kacang dan bahwa wartawan itu berada jauh dari para demonstran berkumpul pada saat kejadian. Dia jelas dapat diidentifikasi sebagai anggota pers dan dengan sejumlah jurnalis lainnya pada saat itu juga mengenakan tanda pers visibilitas tinggi,” sebut sebuah pernyataan, HKJA.

    “Polisi memiliki tugas untuk membantu pers dan memfasilitasi pelaporan oleh anggota pers. Jelas bahwa ini berarti bahwa polisi tidak boleh menyebabkan cedera pada anggota pers," imbuh HKJA yang juga melakukan penyelidikan atas kejadian ini.

    Pada 30 September, Vidler menyebutkan bahwa polisi yang melepaskan tembakan ini diduga melepaskan tembakan dari jarak dekat sekitar 12 meter. Atas kejadian ini, Veby menurut Vidler akan meminta kepolisian Hong Kong melakukan penyelidikan kriminal.

    Sementara Konsulat Jenderal RI di Hong Kong juga telah meminta Kepolisian Hong Kong untuk melakukan penyelidikan atas penembakan itu.

    Ribuan orang berkumpul dalam protes "anti-totaliterisme global" pada Minggu di Hong Kong. Protes itu sudah memasuki minggu ke-17. Unjuk rasa ini  awalnya menentangan undang-undang ekstradisi yang berubah menjadi demonstrasi seruan untuk demokrasi di Hong Kong.



    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id