Pertanian Bisa Jadi Salah Satu Cara Akhiri Konflik

    Fajar Nugraha - 05 November 2019 15:41 WIB
    Pertanian Bisa Jadi Salah Satu Cara Akhiri Konflik
    Wakil Menteri Luar Negeri RI Mahendra Siregar. Foto: Medcom.id/Fajar Nugraha
    Jakarta: Menyelesaikan konflik dengan solusi berlandaskan pertanian merupakan bentuk yang unik. Namun hal tersebut mulai dilakukan oleh Kolombia yang melakukan perdamaian dengan pemberontak Fuerzas Armadas Revolucionarias de Colombia (FARC).

    Memahami konsep tersebut, dilakukan International Workshop on Crops for Peace (IWCP-2019) di Jakarta, 5 November 2019. Wakil Menteri Luar Negeri RI Mahendra Siregar membuka lokakarya tersebut sebagai bentuk berbagi pengalaman.

    Membuka workshop, Mahendra menyebutkan Indonesia selalu berkomitmen untuk menjadi bagian solusi dan berkontribusi pada perdamaian dan keamanan internasional.

    “Perdamaian adalah konsep multidimensi yang melebihi dunia. Sejarah kami dipenuhi cobaan dan hasilnya perdamaian adalah sesuatu hal yang harus kita raih, bangun dan dijaga. Ini juga merupakan sebuah proses inklusif di mana semua pihak seharusnya terlibat,” ujar Mahendra.

    Crop for peace memang elemennya termasuk food security (ketahanan pangan) tetapi bagi negara-negara yang tertimpa konflik, hal itu lebih mendesak lagi ketimbang food security yang kita kenal,” sebut Mahendra.

    “Pangan menjadi alat sekaligus cara untuk mencapai tingkat yang lebih damai ataupun membina dan memelihara perdamaian itu sendiri. Misalnya seperti Kolombia, yang memiliki perjanjian perdamaian antara pemerintah dan bekas pemberontak FARC. Di dalam naskah perdamaian itu bahwa para mantan kombatan akan diberikan lahan dan fasilitasi untuk mengembangkan pertanian,” tutur Mahendra.

    “Jadi untuk mereka bukan food security seperti kita, tapi juga untuk tidak kembali lagi melakukan pemberontakan bersenjata.  Jadi yang dibicarakan di sini, food security menjadi salah satu tapi juga dalam konteks yang mendesak lagi untuk negara-negara yang memiliki persoalan-persoalan yang kompleks untuk belajar dari Indonesia. Untuk itu, dengan perkembangan di Aceh bisa menjadi lesson learned bagi mereka,” sebut mantan Dubes Indonesia untuk Amerika Serikat itu.

    Mahendra menambahkan, proses perdamaian itu bukan hanya berhenti di situ saja, tetapi ada proses politik, hukum. Tetapi dalam arti penghidupan daerah pedesaan dan terpencil pertanian jadi sangat penting terutama untuk produk pertanian.

    Sementara Duta Besar Kolombia untuk Indonesia, Juan Camilo Valencia Gonzalez menegaskan bahwa proses stabilisasi dan upaya konsolidasi dilakukan bersamaan dengan proses hukum. Keadilan dipastikan untuk tidak melanggar kebebasan individu.

    “Kolombia menerapkan program pertanian yang kompetitif. Dengan ini kami akan meraih kesetaraan dan kewirasuhaan di antara warga,” ucapnya.

    Program mengganti tanaman bahan baku narkotika dengan tanaman pertanian, dilakukan di masa pemerintahan mantan Presiden Juan Manuel Santos pada akhir 2016. Program ini menjadi kesepakatan krusial perdamaian dengan kelompok pemberontak FARC.



    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id