Demonstran Hong Kong Abaikan Peringatan, Bentrokan Meletus

    Willy Haryono - 22 Juli 2019 06:01 WIB
    Demonstran Hong Kong Abaikan Peringatan, Bentrokan Meletus
    Polisi menembakkan gas air mata dalam unjuk rasa di Hong Kong, Minggu 21 Juli 2019 malam. (Foto: AFP/Anthony WALLACE)
    Hong Kong: Unjuk rasa anti-pemerintah kembali berlanjut di Hong Kong, Minggu 21 Juli 2019 malam, yang merupakan pekan ketujuh secara berturut-turut. Bentrokan antara petugas keamanan dan demonstran juga kembali pecah.

    Bentrokan terjadi saat para pengunjuk rasa mengabaikan peringatan untuk berhenti berpawai di titik yang telah ditentukan sebelumnya. Mereka terus bergerak menuju wilayah Central, tempat berdirinya sejumlah gedung pemerintahan.

    Dilansir dari laman BBC, Senin 22 Juli 2019, koordinator aksi mengklaim unjuk rasa kali ini diikuti lebih dari 430 ribu orang. Namun polisi menyebut jumlah sebenarnya hanya 138 ribu.

    Aksi protes massa telah berlangsung selama tujuh pekan berturut-turut di Hong Kong, yang awalnya dipicu penentangan terhadap Rancangan Undang-Undang Ekstradisi. Namun protes terus berlanjut meski proses pengesahan RUU ekstradisi telah dihentikan. Kini massa mengajukan sejumlah permintaan baru, termasuk mendesak agar pemimpin Hong Kong Carrie Lam mundur dari jabatannya.

    Baca: Pemimpin Hong Kong Tegaskan RUU Ekstradisi Sudah 'Mati'

    Minggu malam, polisi antihuru-hara yang mengenakan pelindung kepala dan perisai menerjang para pedemo di dekat sebuah terminal kapal feri. Sementara di kompleks pemerintahan, demonstran menuliskan sejumlah grafiti, salah satunya bertuliskan: "Kalian mengajarkan kepada kami bahwa unjuk rasa damai itu sia-sia."

    Demonstran juga menyemprot beberapa kamera pemantau CCTV di luar kantor polisi dengan cat dan melempari sejumlah gedung pemerintah dengan telur. Polisi merespons dengan menembakkan gas air mata dan peluru karet.

    Sebuah rekaman video yang beredar di dunia maya memperlihatkan sekelompok pria bermasker yang menyerang pengunjuk rasa pro-demokrasi di Yuen Long. Media lokal melaporkan, tujuh orang terluka dalam penyerangan tersebut.

    Jumat kemarin, polisi mengklaim telah menemukan bahan peledak dalam jumlah yang cukup besar di sebuah gedung industri di distrik Tsuen Wan. Mereka mengaku menemukan bahan peledak TATP seberat 2 kilogram, 10 bom molotov, cairan asam, pisau, tongkat besi dan masker gas.

    Aparat juga mengklaim menemukan sejumlah spanduk dan pamflet yang bertuliskan penentangan terhadap RUU Ekstradisi serta kaus T-shirt bergambar logo grup Hong Kong National Front.

    Beberapa aksi protes sebelumnya di Hong Kong berjalan relatif damai, namun kerap ricuh saat memasuki malam hari. Demonstrasi pekan lalu membuat 28 orang, termasuk 13 polisi, terluka.



    (WIL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id