india  

3 Pemerkosa Mahasiswa India Tak Lepas dari Hukuman Mati

Arpan Rahman - 10 Juli 2018 17:10 wib
Ketiga pria itu divonis setahun lalu sebagai geng pemerkosa
Ketiga pria itu divonis setahun lalu sebagai geng pemerkosa seorang mahasiswa paramedis berusia 23 tahun pada Desember 2012. (Foto:AFP)

New Delhi: Mahkamah Agung India, pada Senin 9 Juli, menolak permohonan banding oleh tiga orang yang dihukum dalam kasus geng perkosaan selama enam tahun. MA menguatkan hukuman mati yang dijatuhkan tahun lalu.

Ketiga pria itu divonis setahun lalu sebagai geng pemerkosa seorang mahasiswa paramedis berusia 23 tahun pada Desember 2012. Mereka sedang menempuh upaya peninjauan putusan dengan harapan mengubah hukuman mati menjadi hukuman seumur hidup.

Hakim Agung India Dipak Misra dan hakim R. Banumathi dan Ashok Bhushan menolak petisi yang diajukan oleh Vinay Sharma, Pawan Gupta, dan Mukesh Singh. Sembari mengatakan tidak ada alasan untuk PK.

Putusan itu menegaskan putusan hukuman mati pada Mei 2017 oleh Mahkamah Agung.

Bhushan mengatakan ketiga orang itu tidak dapat mendebat kembali kasus tersebut di bawah premis yang keliru dari petisi peninjauan itu, The Hindu Times melaporkan.

Pria keempat yang dihukum karena perkosaan, Akshay Kumar Singh, bukan bagian dari petisi PK. Pengacaranya mengatakan dia akan mengajukan banding terpisah pekan depan.

"Saya sangat senang dengan penilaian itu," kata Asha Devi, ibu korban, kepada ANI, seperti dilansir dari UPI, Selasa 10 Juli 2018.

Devi menambahkan dalam posting di laman Twitter ANI: "Perjuangan kami tidak berakhir di sini. Keadilan masih tertunda. Ini mempengaruhi anak-anak perempuan lain di masyarakat. Saya minta pengadilan untuk memperketat sistem peradilan mereka, melayani keadilan untuk Nirbhaya dengan menggantung mereka sesegera mungkin. Ini mungkin & bantu gadis & wanita lain."

Satu-satunya upaya yang tersisa bagi ketiga orang itu adalah petisi kuratif, di mana mereka harus menunjukkan bias yudisial terhadap mereka.

Pemerkosaan itu menarik liputan media nasional dan menyebabkan protes menyerukan perhatian dunia atas kekerasan terhadap perempuan di India. 


(WAH)


BACA JUGA
BERITA LAINNYA

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.