Malaysia Kembalikan 150 Kontainer Sampah Plastik ke 13 Negara

    Arpan Rahman - 21 Januari 2020 17:16 WIB
    Malaysia Kembalikan 150 Kontainer Sampah Plastik ke 13 Negara
    Menteri Energi dan Lingkungan Hidup Malaysia Yeo Bee Yin memperlihatkan kantong plastik ke awak media pada 2019. (Foto: AFP/Getty/Mohd Rasan)
    Kuala Lumpur: Otoritas Malaysia mengambil sikap tegas terhadap praktik impor sampah plastik secara ilegal yang dilakukan sejumlah negara. Ketegasan diperlihatkan Malaysia dengan mengembalikan 150 kontainer berisi sampah plastik ke 13 negara.

    Belasan negara tersebut Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Kanada, Spanyol, Tiongkok, Jepang, Singapura dan Sri Lanka. Dari 13 negara, Prancis yang paling banyak menerima kiriman ulang dari Malaysia, yakni 43 kontainer sampah plastik, dan AS di posisi kedua dengan 42.

    Sementara Inggris menerima 17 kontainer, 11 untuk Kanada dan 10 Spanyol. Sementara jumlah kontainer yang diterima Tiongkok, Jepang, Singapura dan empat negara lainnya tidak diketahui.

    Menteri Energi dan Lingkungan Hidup Malaysia Yeo Bee Yin, tambahan 110 kontainer lainnya akan dikirim ke sejumlah negara lain pada musim panas tahun ini. Malaysia saat ini sedang bernegosiasi dengan AS terkait 60 kontainer, 15 Kanada, 14 Jepang, sembilan Inggris dan delapan Belgia.

    "Posisi kami sangat jelas. Kami ingin mengirim kembali (limbah plastik). Kami hanya ingin menyampaikan pesan bahwa Malaysia tidak ingin menjadi tempat sampah dunia," kata Yeo kepada awak media dalam inspeksi di sebuah pelabuhan di Penang, dilansir dari Newsweek, Senin 20 Januari 2020.

    Usai Tiongkok melarang impor limbah plastik pada 2018, Malaysia menjadi salah satu negara tujuan pengganti. Menurut South China Morning Post (SCMP), Malaysia telah menerima 870 ribu ton limbah plastik di awal 2018.

    Sementara menurut CNBC, Malaysia melarang impor semacam itu di tahun yang sama dan mengembalikan 3.300 ton limbah plastik ke negara-negara asal pada 2019.

    Kantor berita BBC melaporkan, sebagian besar sampah plastik itu berasal dari sejumlah perusahaan daur ulang. Perusahaan-perusahaan itu biasanya mengekspor limbah plastik ke beberapa negara berkembang untuk mengurangi jumlah sampah domestik. Metode mengirim sampah ke negara lain ini disebut tidak terlalu menghabiskan banyak uang.

    Sejak Malaysia menolak impor sampah plastik pada Juli 2018, total limbah yang telah dikembalikan ke negara-negara asal mencapai 4.120 ton, dan 200 perusahaan daur ulang ilegal di Negeri Jiran juga telah ditutup.




    (WIL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id