Menlu Yakin Indonesia Mampu Wujudkan Perdamaian Produktif

    Willy Haryono - 30 November 2019 12:30 WIB
    Menlu Yakin Indonesia Mampu Wujudkan Perdamaian Produktif
    Menlu Retno Marsudi dalam sesi pembukaan CIFP 2019, di The Kasablanka, Jakarta, Sabtu 30 November 2019. (Foto: Medcom.id/Marcheilla Ariesta)
    Jakarta: Hampir semua orang khawatir mengenai situasi global saat ini, termasuk mengenai rivalitas antar negara yang lebih condong ke arah persaingan tak sehat berbasis zero sum game, atau dapat dikatakan sebagai, "jika saya menang, maka Anda harus kalah."

    Kondisi global semacam ini disebut sebagai hot peace, atau masa damai namun dipenuhi ketegangan dan kecurigaan. Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menegaskan kita semua harus dapat memadamkan perdamaian yang panas ini.

    "Dapatkan kita memadamkannya? Jawaban saya adalah iya, atau setidaknya kita harus berusaha melakukannya," ujar Menlu Retno Marsudi dalam sesi pembukaan kegiatan Conference on Indonesia Foreign Policy (CIFP) 2019, di The Kasablanka, Jakarta, Sabtu 30 November 2019.

    Menlu Retno menegaskan Indonesia tidak bisa berjuang seorang diri dalam memadamkan hot peace, melainkan harus menggandeng sebanyak mungkin negara-negara sahabat.

    Dalam meyampaikan poin persahabatan ini, Menlu Retno memperlihatkan sebuah video berisi pasukan Indonesia bersama beberapa personel militer negara asing yang menari poco-poco bersama.

    "Lion's dance atau poco-poco ini tidak bisa dilakukan hanya satu atau dua orang, melainkan harus oleh banyak orang," sebut Menlu Retno.

    "Menurut saya (keterlibatan) masyarakat harus menjadi inti dari solusi apapun," lanjut dia

    Sementara itu, hot peace juga berkaitan erat dengan perekonomian global yang trennya relatif menurun dalam beberapa tahun terakhir. Namun di tengah tren buruk ini, Menlu Retno menyinggung kembali pernyataan Dana Moneter Internasional (IMF) yang menilai ASEAN sebagai titik terang di tengah perekonomian global.

    Sepanjang tahun ini, ungkap Menlu Retno, 10 negara ASEAN telah berkontribusi terhadap 10 persen pertumbuhan ekonomi global. Sementara tahun lalu, rata-rata pertumbuhan ekonomi ASEAN berada di atas rata-rata perekonomian global.

    "ASEAN merepresentasikan kesempatan dan juga stabilitas. Hari ini, ASEAN adalah mesin stabilitas kawasan," tutur Menlu Retnp.

    Mengutip sejumlah laporan, Menlu Retno menyebutkan adanya lima negara yang diprediksi akan menjadi lima perekonomian terbesar dunia di tahun 2030. Kelima negara itu adalah Tiongkok, India, Amerika Serikat, Indonesia dan Turki.

    Untuk mengatasi hot peace, Menlu Retnmo menilai para 'pemain' besar seharusnya "tidak menjadi ancaman" bagi negara-negara kecil. "Tapi mereka harus menjadi mesin perdamaian dan kesejahteraan," ungkapnya.

    "Saya yakin, Indonesia akan mampu mengubah hot peace menjadi productive peace," pungkas Menlu Retno, yang disambut tepuk tangan meriah para hadirin.




    (WIL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id