Menlu Australia Berada di Bangkok Bahas Nasib Rahaf Al-Qunun

Fajar Nugraha - 10 Januari 2019 14:15 wib
Rahaf Mohammed al-Qunun berada di dalam perlindungan UNHCR
Rahaf Mohammed al-Qunun berada di dalam perlindungan UNHCR setelah menolak pulang ke Arab Saudi. (Foto: AFP).

Bangkok: Australia sudah menyuarakan pertimbangan untuk memberikan suaka bagi remaja 18 tahun, Rahaf Mohammed al-Qunun. Qunun saat ini berada di dalam perlindungan UNHCR setelah menolak pulang ke Arab Saudi.

Baca juga: Rahaf al-Qunun Takut Dibunuh Keluarga Karena Murtad.

Menteri Luar Negeri Australia Marise Payne, saat in berada di Bangkok, untuk membicarakan hal ini. Selain itu Payne juga akan berbicara dengan pihak Thailand terkait pesepakbola asal Bahrain yang berstatus pencari suaka dari Australia. Pesepakbola itu dipenjara di Thailand dan dihadapkan pada ekstradisi ke Bahrain.

Sementara Qunun saat ini menetap di sebuah hotel di Bangkok dengan pengawasan pihak UNHCR. Lembaga PBB yang mengurusi pengungsi (UNHCR) masih terus memproses aplikasi status pengungsi menyusul kemungkinan pemindahan ke Australia.

“Qunun menolak untuk bertemu ayah dan kakaknya,-yang tiba di Bangkok pekan ini,- yang mencoba membujuknya pulang ke Arab Saudi. Baik ayah dan kakak Qunun membantah menyiksanya secara fisik dan psikis,” pernyataan pihak berwenang Thailand, seperti dikutip AFP, Kamis, 9 Januari 2019.

Pada Sabtu 5 Januari lalu, Qunun dilarang masuk ke Thailand saat tiba di Bandara Suwarnabhumi. Dia bermaksud terbang ke Australia untuk mencari suaka.

Dia kemudian diperbolehkan masuk ke Bangkok pada Senin 7 Januari pagi, oleh pihak Thailand setelah terlibat ketegangan selama 48 jam. Qunun sempat berlindung di kamar hotel untuk menuntut suaka.

Adapun kasus ini, Menlu Payne akan melakukan pertemuan dengan Deputi Perdana Menteri yang juga menjabat Menteri Kehakiman Prajin Juntong, untuk nasib Qunun dan pesepakbola, Hakeem AlAraibi.

AlAraibi memiliki status pengungsi di Australia tetapi ditangkap di Bandara Bangkok 2017 lalu ketika melakukan perjalanan bulan madu ke Thailand. AlAraibi saat ini ditahan di penjara untuk menantikan hasil putusan ekstradisi ke Bahrain.

“Saya akan menyuarakan kasus ini kepada pemerintah Australia, agar bisa kembali ke Australia dengan selamat,” tegasnya.

FIFA sendiri menilai bahwa AlAraibi seharusnya dibebaskan dan diizinkan kembali ke Australia.


(FJR)


BACA JUGA
BERITA LAINNYA

Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.