RI-Tiongkok Sepakati Kontrak Alumina Senilai Rp9,4 Triliun

    Willy Haryono - 14 Januari 2020 08:26 WIB
    RI-Tiongkok Sepakati Kontrak Alumina Senilai Rp9,4 Triliun
    Penandatanganan kontrak pembangunan kilang alumina di KBRI Beijing, Tiongkok, 13 Januari 2020. (Foto: KBRI Beijing)
    Beijing: Bertempat di KBRI Beijing pada Sabtu 11 Januari, telah dilakukan penandatanganan kontrak Engineering, Procurement and Construction (EPC) antara PT. Borneo Alumina Indonesia (PT BAI) dengan Konsorsium antara PT. Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk (PT PP) dan China Aluminum International Engineering Corporation Limited (CHALIECO). Proyek yang disepakati adalah pembangunan Smelter-Grade Alumina Refinery dengan nilai kontrak sekitar USD695 juta atau setara Rp9,4 triliun.

    Kesepakatan tersebut merupakan buah pertama kerja sama ekonomi antara Indonesia dan Tiongkok di awal 2020. Momen ini menjadi penting karena 2020 merupakan tahun peringatan 70 tahun hubungan bilateral kedua negara. 

    Hal tersebut disampaikan langsung Bapak Victor S. Hardjono, Counsellor KBRI Beijing, mewakili Duta Besar RI untuk Tiongkok yang sedang berada di Jakarta untuk Rapat Kerja Perwakilan RI sedunia.

    "Apresiasi kami sampaikan kepada pihak-pihak yang telah mendukung terwujudnya kontrak EPC untuk pembangunan Alumina Refinery yang telah lama menjadi cita-cita Indonesia dalam mewujudkan industri pengolahan alumunium yang mandiri," ujar Victor, dalam keterangan tertulis KBRI Beijing yang diterima Medcom.id, Selasa 14 Januari 2020.

    Dengan kilang terbaru ini, yang fase konstruksinya direncanakan selesai tahun 2022, Indonesia akan mampu memproduksi alumina dengan kapasitas mencapai 1 juta ton per tahun.

    Selama ini, Indonesia masih bergantung pada industri pengolahan di luar negeri dengan melakukan ekspor bijih bauksit dan mengimpor alumina sebagai produk olahan bijih bauksit tersebut, untuk kemudian diolah menjadi aluminium di dalam negeri. Hal ini menjadi beban biaya produksi bagi Indonesia dan rentan terhadap perubahan harga komoditas karena melakukan ekspor bahan mentah.

    Kilang baru yang akan dibangun di Kabupaten Mempawah akan meningkatkan industri nilai tambah Indonesia dan dapat menekan defisit neraca perdagangan sehingga berkontribusi positif bagi perekonomian dalam negeri.

    PT BAI merupakan anak perusahaan BUMN Inalum dan ANTAM, sementara PT PP merupakan BUMN yang sudah terkenal kiprahnya di berbagai proyek infrastruktur Indonesia. ANTAM sebagai BUMN yang melakukan eksplorasi bijih bauksit akan menjadi pemasok bagi PT BAI, yang kemudian akan menjual aluminanya ke PT Inalum. Dengan demikian, industri aluminium Indonesia dapat sepenuhnya diproduksi di dalam negeri untuk mewujudkan Indonesia Maju 2045.

    Proyek ini menjadi bukti bahwa BUMN Indonesia berkontribusi nyata bagi pembangunan nasional dan sejalan dengan semangat perubahan yang sedang digalakkan pemerintah.




    (WIL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id