Penembakan Massal Thailand, PM Prayuth Bantah Kecolongan

    Arpan Rahman - 10 Februari 2020 13:06 WIB
    Penembakan Massal Thailand, PM Prayuth Bantah Kecolongan
    PM Thailand Prayuth Chan-ocha dalam sebuah acara di Bangkok, 4 April 2018. (Foto: AFP/LILLIAN SUWANRUMPHA)
    Bangkok: Perdana Menteri Prayuth Chan-ocha membantah anggapan bahwa pengamanan di markas militer Thailand relatif longgar sehingga memungkinkan terjadinya pencurian senjata api. Pernyataan PM Prayuth terkait penembakan massal di Nakhon Ratchasima, yang telah menewaskan 29 orang dan melukai 57 lainnya.

    Pelaku penembakan, seorang sersan bernama Jakrapanth Thomma, diketahui telah mencuri sejumlah senjata api dari sebuah markas militer. Senjata tersebut ia gunakan untuk membunuh 29 orang di area pusat perbelanjaan Terminal 21 di kota Nakhon Ratchasima, atau biasa juga disebut Korat.

    PM Prayuth mengatakan penembakan massal ini merupakan sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya di Thailand. Ia merespons keras saat awak media bertanya mengenai pelaku yang mencuri senjata api.

    "Kami tidak kecolongan. Kami tidak membiarkan gudang senjata dibiarkan tanpa penjagaan. Ada petugas yang menjaganya," kata PM Prayuth kepada wartawan, dikutip dari Guardian, Minggu 9 Februari 2020.

    Delapan orang dilaporkan sempat disandera pelaku di dalam mal. Sejumlah pengunjung mal juga terperangkap selama berjam-jam sejak Sabtu malam, di tengah upaya petugas untuk memburu dan melumpuhkan pelaku.

    Satu polisi tewas dalam penyerbuan ke area mal. "Dia tertembak, dan kemudian meninggal," ucap Menteri Kesehatan Thailand Anutin Charnvirakul. Pelaku telah ditembak mati petugas pada Minggu pagi.

    Dari 29 korban tewas, terdapat seorang ibu yang terkena tembakan saat dirinya sedang berada di dalam mobil. Korban lainnya adalah Rachanon Kanchanamethi, seorang remaja 13 tahun yang sedang mengendarai sepeda motor di lokasi kejadian.

    Berdasarkan gambar dari kamera pengawas yang disiarkan saluran televisi Thai Rath, Thomma terlihat menggunakan senapan serbu dalam melancarkan aksinya. Media lokal lainnya menyebut Thomma datang ke Terminal 21 dengan menggunakan kendaraan militer.

    Menurut keterangan polisi lokal, Thomma awalnya mendatangi sebuah rumah di kota Nakhon Ratchasima, atau biasa juga disebut Korat. Dari sana ia menembak dua orang dan mencuri senjata api dari sebuah kamp militer untuk kemudian beraksi di Korat.



    (WIL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id