Pemimpin Hong Kong Bela Penggunaan Kekerasan oleh Polisi

    Willy Haryono - 19 Oktober 2019 17:30 WIB
    Pemimpin Hong Kong Bela Penggunaan Kekerasan oleh Polisi
    Pemimpin Hong Kong Carrie Lam. (Foto: AFP)
    Hong Kong: Pemimpin Hong Kong Carrie Lam mengatakan bahwa kepolisian di kotanya telah menggunakan "kekuatan senjata secara tepat" saat merespons demonstran dalam sejumlah aksi unjuk rasa berskala masif.

    Namun ia menegaskan, Hong Kong tidak akan memberikan toleransi terhadap pelanggaran hukum apapun, bahkan yang dilakukan polisi sekalipun.

    Dalam sebuah wawancara dengan media RTHK, Lam menegaskan Kepolisian Hong Kong tidak dengan sengaja mengadopsi metode kekerasan. Ia menyebut polisi hanya menggunakan langkah-langkah "tepat" untuk menghadapi para perusuh yang menggunakan aksi kekerasan.

    "Kita semua harus yakin pada aturan hukum di Hong Kong, yang juga meliputi patuh dan tunduk pada hukum," tutur Lam, dilansir dari CNN, Sabtu 19 Oktober 2019.

    Lam juga menekankan nilai dari kebebasan berbicara di Hong Kong. "Kami tidak pernah berniat untuk menyeragamkan semua reporter, atau memeriksa siapa-siapa saja yang berhak untuk meliput berita," ungkapnya.

    "Kebebasan berbicara adalah nilai utama dari Hong Kong. Saya sangat setuju dengan ide bahwa wartawan berhak menggunakan kekuatan mereka di bidang media," lanjut Lam.

    Gelombang protes di Hong Kong yang telah berlangsung selama empat bulan dipicu Rancangan Undang-Undang Ekstradisi, yang mengatur mengenai pengiriman tersangka kasus kriminal dari Hong Kong ke Tiongkok. Meski RUU tersebut sudah disebut "Mati" oleh Lam, unjuk rasa terus berlanjut dan meluas menjadi gerakan pro-demokrasi.

    Rabu kemarin, Lam menangguhkan pidato tahunannya usai dicela di parlemen. Anggota parlemen oposisi meneriakkan slogan-slogan penentangan dan mengganggunya saat sesi Dewan Legislatif.
     
    Sesi sempat dilanjutkan kembali usai terjadi gangguan, namun kemudian disela lagi. Sesi pidato secara langsung pun akhirnya ditangguhkan. Sebagai gantinya, Lam berpidato lewat video.
     
    Karena pidato tahunan ini tidak disampaikan secara langsung, maka RUU Ekstradisi tidak dapat ditarik secara formal.

    RUU itu ditangguhkan pada Juli lalu. Pidato tahunan hari ini, Rabu 16 Oktober 2019, adalah kesempatan pertama Pemerintah Hong Kong untuk menarik RUU itu secara total.

    Hong Kong adalah bekas koloni Inggris, yang sudah dikembalikan ke Tiongkok pada 1997 di bawah sistem "Satu Negara, Dua Sistem." Sistem tersebut menjamin otonomi Hong Kong.



    (WIL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id