Kemenlu Jelaskan Prioritas Polugri RI ke Akademisi Pekanbaru

    Willy Haryono - 27 November 2019 15:08 WIB
    Kemenlu Jelaskan Prioritas Polugri RI ke Akademisi Pekanbaru
    Peresmian Pusat Studi Kawasan Asia Pasifik dan penandatanganan MoU oleh Dirjen Aspasaf Kemlu Dr Desra Percaya bersama Rektor Universitas Islam Riau, Prof Dr H Syafrinaldi, SH, MCL. (Foto: Kemenlu RI)
    Pekanbaru: Indonesia akan mengedepankan prioritas Politik Luar Negeri 4+1, yaitu Diplomasi Ekonomi, Diplomasi Perlindungan WNI, Diplomasi Kedaulatan, dan Peran Kepemimpinan RI di tingkat regional dan global, serta Penguatan Infrastruktur Diplomasi. 

    Untuk itu, mahasiswa-mahasiswa fakultas Hubungan Internasional, Hukum dan fakultas lainnya dari berbagai Universitas di Pekanbaru diundang untuk mendaftar ke Kemenlu RI. 

    Demikian ditekankan oleh Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika, Dr. Desra Percaya, dalam sambutannya di Kuliah Umum di hadapan Rektor Universitas Islam Riau (UIR) Prof Dr H Syafrinaldi, SH, MCL dan sekitar 250 akademisi dari UIR, Universitas Riau (UNRI) dan Universitas Abdurrab Pekanbaru pada Selasa 26 November di Pekanbaru, Riau.

    "Diplomasi kedaulatan, ekonomi dan perlindungan WNI, peningkatan kontribusi di tingkat kawasan dan global, serta penguatan infrastruktur diplomasi akan menjadi pilar utama Politik Luar Negeri Indonesia ke depan," tutur Desra Percaya, menjabarkan prioritas 4+1 dimaksud. 

    "Penting bagi kami agar para pemangku kepentingan, termasuk di daerah untuk dapat memperoleh penjelasan menyeluruh tentang kebijakan pemerintah pusat sehingga bisa tercapai pemahaman bersama," lanjutnya, dalam keterangan tertulis yang diterima Medcom.id, Rabu 27 November 2019.

    Penyelenggaraan Outreach Polugri dilakukan secara reguler dan ke berbagai kampus seantero Indonesia sesuai arahan Menteri Luar Negeri tanggal 11 Oktober lalu di Ruang Nusantara Kemenlu RI. Arahan diberikan saat dilakukannya kerja sama Kemenlu dan Asosiasi Ilmu Hubungan Internasional Indonesia (AIHII) yang membahas diplomasi RI dalam memajukan Kerja Sama Indo Pasifik dan perkembangan ASEAN Outlook on Indo Pasifik.

    Sejak itu, Kemenlu telah melakukan outreach ke Samarinda di Universitas Mulawarman dan ke Manado di Universitas Sam Ratulangi pada Oktober hingga November 2019. Kunjungan ke Pekanbaru kali ini dipimpin langsung Dirjen Aspasaf didampingi 3 Eselon-2 (Direktur KSIA Aspasaf, Direktur Asia Tenggara dan Sekretaris Ditjen Aspasaf) beserta 10 pejabat Diplomatik.

    Sosialisasi kerja sama kawasan Asia Pasifik yang dilaksanakan di UIR Pekanbaru ini juga dimanfaatkan oleh FISIP UIR untuk meningkatkan hubungan kerja sama dengan Kemenlu melalui penandatangan Nota Kesepahaman (MoU). Selain itu, kunjungan Dirjen Aspasaf dan delegasi Kemenlu untuk pertama kalinya ke kampus UIR ini juga didaulat untuk meresmikan Pusat Studi Asia Timur dan Asia Tenggara.

    Indo-Pasifik yang membentang dari Samudera Hindia hingga Samudera Pasifik telah menjadi suatu kawasan dengan nilai strategis yang terus meningkat.

    Hal ini seiring dengan potensi besar yang dimiliki, termasuk sebagai pusat kemajuan teknologi dan inovasi dan dengan ukuran ekonomi 62 persen dari GDP dunia. Namun, Indo-Pasifik juga menghadapi tantangan termasuk rivalitas negara-negara besar yang mengusung konsep aristektur masing-masing.

    Pulau Sumatra, menurut narasumber Direktur KSIA Aspasaf Andre Omer Siregar, sangat strategis dalam konteks regional architecture karena langsung berhadapan dengan kawasan lain di Asia sehingga memiliki nilai geopolitik yang tinggi, dan konsep Indo Pasifik semakin mempertegas posisi tersebut. 

    Namun demikian, faktor-faktor lain yang mendukung penerimaan konsep Indo Pasifik yang diusung Indonesia, yaitu keaktifan dalam berbagai fora internasional seperti Dewan Keamanan PBB dan Dewan HAM serta forum lain seperti OKI dan GNB, menciptakan kepercayaan tinggi masyarakat Internasional pada Indonesia. Andre juga memberikan informasi mengenai perkembangan mengenai peran Indonesia di DK PBB yang dipercaya menjadi Presiden DK PBB dua kali dalam masa keanggotaanya, yaitu Mei 2019 dan Agustus 2020. 

    Dalam rangka terus mendorong kerja sama Indo Pasifik, Indonesia akan menyelenggarakan Indo Pacific Infrastructure and Connectivity Forum pada 2020 sebagaimana diumumkan Presiden Joko Widodo pada KTT ASEAN di Bangkok.

    Paparan narasumber kedua, Direktur Astara Denny Abdi, juga memperkuat fakta bahwa Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara memetik keberhasilan ekonomi karena adanya perdamaian dan kestabilan politik yang solid di Asia Tenggara, walau terkadang masih terdapat perselisihan di perbatasan yang dapat diredam dalam kerangka ASEAN. Selama ini, forum ASEAN mampu mengajak negara anggota untuk fokus pada kerja sama, stabilitas dan perdamaian, telah menjelma menjadi salah satu organisasi paling berhasil di dunia.

    Narasumber ketiga, Sesditjen Aspasaf Rossy Verona, menyampaikan pentingnya membumikan seluruh diplomasi multilateral, regional dan bilateral agar setiap masyarakat merasakan manfaatnya, khususnya di daerah yang berbatasan dengan negara lain. Dalam hal itu, Setditjen telah mendorong link and match sebagai strategi utama diplomasi ekonomi, khususnya mengangkat produk daerah menjadi ekspor unggulan dan memfasilitasi keterlibatan Pemprov serta pengusaha daerah guna mendukung keberhasilan diplomasi ekonomi jangka panjang.

    Kemenlu Jelaskan Prioritas Polugri RI ke Akademisi Pekanbaru
    Dirjen Aspasaf Desra Percaya bersama Rektor Universitas Islam Riau. (Foto: Kemenlu RI)

    Career Talks dan Understanding Indonesian Digital Diplomacy

    Kesempatan ini juga dimanfaatkan untuk menggelar Career Talk tentang peluang berkarier di Kemenlu RI serta diskusi tentang upaya penguatan diplomasi digital di era yang diwarnai oleh disrupsi dan disinformasi. Dua diplomat muda Sekdilu Angkatan 41 dihadirkan untuk berbagi tips dalam mengikuti seleksi dan pengalaman meniti karier di Kemenlu.

    Sementara itu Wakil Direktur Infomed, Aji Nasution, menyampaikan perkembangan diplomasi RI yang memanfaatkan diplomasi digital. Dalam hal itu, Indonesia telah menyelenggarakan the first Regional Conference on Digital Diplomacy (RCDD) di Jakarta pada 10 September.

    Pertemuan RCDD tersebut menghasilkan Jakarta Message on Regional Cooperation in Digital Diplomacy Membahas mengenai:

    1. Pentingnya penggunaan Digital Diplomacy dalam praktik diplomasi saat ini;

    2. Komitmen dalam membangun pesan bersama terkait kerja sama Digital Diplomacy dengan stakeholder terkait;

    3. Dan juga terkait membangun komunitas yang bebas dari informasi palsu dan hoaks.

    Pertemuan Kemlu dengan Pemerintah Provinsi Riau

    Sesditjen Aspasaf juga berkesempatan bertemu dengan Sekretaris Daerah Provinsi Riau, Yan Prana Jaya dan Kadin setempat. Ia menyampaikan bahwa sinergi antara Kemenlu dan Pemda menjadi kunci untuk mendorong peluang ekonomi di daerah untuk memasuki pasar global.

    Banyak potensi TTI Riau yang teridentifikasi, di antaranya sagu, kelapa, karet, proyek kawasan industri dan wisata, kerja sama port Dumai-Melaka, dan pendalaman manfaat kerja sama ekonomi sub regional IMT-GT.

    Pertemuan menyepakati untuk dilakukannya pengembangan roadmap promosi TTI Riau untuk tahun 2020.



    (WIL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id