• DONASI PALU/DONGGALA :
    Tanggal 20 NOV 2018 - RP 51.121.521.604

  • Salurkan Donasi Anda: (BCA - 309.500.6005) A/n Yayasan Media Group

  • Salurkan Donasi Anda: (Mandiri - 117.0000.99.77.00) A/n Yayasan Media Group

  • Salurkan Donasi Anda: (BRI - 0398.01.0000.53.303) A/n Yayasan Media Group

Banyak Isu Imigrasi, Pengacara Disewa untuk Bela WNI di AS

Sonya Michaella - 11 Juli 2018 13:46 wib
Harun (kanan), seorang pengacara yang ditunjuk Kemenlu RI dalam
Harun (kanan), seorang pengacara yang ditunjuk Kemenlu RI dalam mengatasi masalah WNI di AS (Foto: Sonya Michaella).

Jakarta: Meski tak banyak Warga Negara Indonesia (WNI) yang tinggal di Amerika Serikat (AS), namun permasalahan imigrasi dan suaka tak kunjung selesai di Negara Adi Daya tersebut.
 
Kementerian Luar Negeri AS pun menyewa pengacara inhouse bernama Harun, seorang WNI yang sudah lama tinggal di AS, di mana ia akan menjadi penasehat hukum untuk KBRI Washington DC dan lima KJRI di lima negara bagian AS.
 
"Selama saya menangani kasus WNI, kebanyakan dari mereka adalah WNI overstayer. Lalu mereka sudah diputus untuk dideportasi, mereka tidak mau dan tetap tinggal di AS," kata Harun kepada awak media di Kementerian Luar Negeri RI, Jakarta, Rabu 11 Juli 2018.
 
Pasalnya, jumlah WNI di sana pun tak banyak. Namun, KBRI dan KJRI pun tak bisa mengetahui berapa jumlah pasti WNI yang datang ke AS dan tak melaporkan diri ke perwakilan RI terdekat.
 
"Di negara-negara bagian AS seperti Philadelphia, Washington DC dan New York memang masih banyak WNI kita yang ilegal di sana," lanjut Harun.
 
Harun juga mengakui, kebijakan imigrasi yang diterapkan Presiden AS Donald Trump sangat berbeda jauh dari yang pernah diterapkan Barack Obama.
 
"Penindaklanjutan pelanggaran imigrasi kini meningkat menjadi penahanan. Pengungsi dan pencari suaka diperlakukan seperti tahanan dan dipisahkan dari keluarga mereka," tutur dia.
 
Belum lagi rencana administrasi Trump yang akan mencalonkan Hakim Brett Kavanaugh ke Mahkamah Agung, seorang hakim konservatif.
 
Keputusan ini mengatur badan peradilan untuk lebih ke arah 'kanan' dengan implikasi penting bagi masyarakat Negeri Paman Sam.


(FJR)


BACA JUGA
BERITA LAINNYA

Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.