Xi Jinping Ancam 'Hancurkan' Pemecah Belah Tiongkok

    Medcom - 14 Oktober 2019 16:00 WIB
    Xi Jinping Ancam 'Hancurkan' Pemecah Belah Tiongkok
    Presiden Tiongkok Xi Jinping dalam kunjungan ke Kathmandu, Nepal, 13 Oktober 2019. (Foto: AFP/The Rising Nepal/HANDOUT)
    Kathmandu: Presiden Xi Jinping mengancam akan menghancurkan siapapun yang berani memecah belah Tiongkok. Pernyataan tersebut diyakini diucapkan Xi dalam konteks unjuk rasa anti-Tiongkok yang telah berlangsung selama empat bulan di Hong Kong.

    Ancaman tersebut dilayangkan saat Xi melakukan kunjungan kenegaraan ke Nepal.

    "Siapapun yang mencoba memecah belah wilayah dari Tiongkok akan musnah. Tubuhnya akan hancur, dan tulangnya berubah menjadi debu," kata Xi, menurut keterangan tertulis dari Kementerian Luar Negeri Tiongkok.

    "Kekuatan eksternal apapun yang mendukung perpecahan Tiongkok hanya akan dianggap sebagai sebuah delusi oleh rakyat kami," lanjut dia, dikutip dari AFP, Senin 14 Oktober 2019.

    Meski Xi tidak menyebut satu wilayah secara spesifik, komentarnya terucap saat polisi antihuru-hara dan demonstran pro-demokrasi kembali bentrok di Hong Kong sepanjang akhir pekan kemarin.

    Tidak hanya Hong Kong, Taiwan juga menjadi salah satu perhatian serius Presiden Xi Jinping. Setelah dipimpin Presiden Tsai Ing-wen, Taiwan menegaskan bukan merupakan bagian dari Tiongkok.

    Terdapat kekhawatiran Tiongkok dapat mengirim pasukannya untuk mengakhiri gelombang protes di Hong Kong. Namun sejauh ini, Beijing mengaku yakin kepolisian Hong Kong masih dapat mengendalikan situasi.

    Perdana Menteri Nepal K.P. Sharma Oli mengatakan kepada Xi bahwa negaranya "tidak akan membiarkan wilayahnya dikuasai separatis anti-Tiongkok." Nepal adalah negara yang berbatasan dengan Tibet.

    Hong Kong adalah bekas koloni Inggris, yang sudah dikembalikan ke Tiongkok pada 1997 di bawah sistem "Satu Negara, Dua Sistem." Sistem tersebut menjamin otonomi Hong Kong.

    Sementara Taiwan telah berkuasa secara otonom sejak berakhirnya perang sipil di tahun 1949. Namun Tiongkok memandang pulau itu sebagai bagian dari wilayahnya, dan bertekad akan mendapatkannya kembali di masa mendatang -- dengan kekuatan militer jika diperlukan.

    Penulis: Fitri Nur Rizkyani



    (WIL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id