DILA Tegaskan Dukungan Untuk Supremasi Hukum Internasional

    Fajar Nugraha - 15 Oktober 2019 12:48 WIB
    DILA Tegaskan Dukungan Untuk Supremasi Hukum Internasional
    Direktur Jenderal Asia Pasifik Kementerian Luar Negeri Desra Percaya dalam pembukaan Konferensi DILA. Foto: Medcom.id/Fajar Nugraha
    Jakarta: Hukum internasional sangatlah penting hingga saat ini keberadaan hukum internasional semakin mengakar. Bagi Indonesia, hukum internasional memegang peran signifikan dalam membentuk negara kepulauan.

    Kutipan itu datang dari Menteri Luar Negeri Retno Marsudi yang dibacakan oleh Direktur Jenderal Asia Pasifik Kementerian Luar Negeri Desra Percaya dalam pembukaan Konferensi Internasional, Development of International Law in Asia (DILA) pada Selasa 15 Oktober 2019.

    “Saat ini kita melihat hal yang bertentangan dalam arsitektur regional di Asia Tenggara dan kawasan sekitar. Untuk itu diperlukan  sebuah payung hukum,” pernyataan Menlu Retno yang dibacakan Dirjen Desra Percaya.

    “Sebuah platform dialog dan pembangunan kawasan harus diutamakan,” tegasnya,

    Mekanisme ini yang seharusnya bisa dimainkan oleh ASEAN. Kerangka atau Outlook Indo-Pasifik lah yang menjadi respons atas tuntutan itu.

    Ditarik kasus mengenai Laut China Selatan muncul anggapan bahwa hukum internasional tidak dihormati dan outlook Indo-Pasifik tidak mengikat hukum, Direktur Jenderal Hukum dan Perjanjian Internasional Kementerian Luar Negeri RI Damos Dumoli Agusman memiliki pandangannya.

    “Outlook tidak legally binding (mengikat secara hukum), tetapi sudah mengacu kepada dokumen-dokumen yang legally binding. Seperti pada waktu di outlook ini katakan ‘respect international law including UNCLOS’. Outlook tidak legally binding tapi yang diacu legally binding,” ucap Damos.

    “Sehingga ini memudahkan negara-negara katakan ‘now i have position, i have legal backup’ (sekarang kami miliki sikap, dan sokongan hukum)  bahwa saya harus respect international law and UNCLOS’ (saya harus menghormati hukum internasional dan UNCLOS. Sudah sangat jelas mengenai masalah itu,” tutur Dirjen Damos, saat ditemui wartawan usai pembukaan konferensi DILA.

    Menlu Retno pun menyampaikan pentingnya Indo-Pasifik untuk Indonesia. Pertama karena ketertarikan ASEAN membentuk arsitektur keamanan dan ekonomi, sehingga dinamika eksternal bisa membawa keamanan, perdamaian dan stabilitas serta kemakmuran.

    Kedua ASEAN perlu meningkatkan konsistensi mengenai kepemimpinan kolektif demi membentuk visi yang lebih erat terkait kerja sama Indo-Pasifik. Ketiga, ASEAN perlu melanjutkan peran sebagai juru damai di dalam lingkungan strategis yang memiliki kepentingan saling bersaing.

    Hukum internasional ada di dalam darah Indonesia. Kondisi geografis Indonesia yang memberikan definisi. Outlook ASEAN menurut Menlu Retno juga menjadi contoh jelas dari upaya Indonesia mendorong dan melindungi semangata multilarelisme yang kini terancam unilateralisme.

    Melalui Konferensi DILA, merupakan kesempatan bagus untuk bekerja sama dengan institusi non-pemerintah guna membahas isu yang menjadi perhatian bersama.

    Diharapkan dengan DILA bisa tidak hanya upaya negara Asia mempraktikkan dan meningkatkan pelaksanaan hukum internasional, tetapi juga bisa menginspirasi kesepahaman bersama atas kemakmuran, perdamaian dan Indo-Pasifik yang inklusif. DILA memastikan seluruh elemen masyarakat terlibat dalam proses itu.



    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id