Indonesia dan Australia Perangi Fake News

    Medcom - 16 Februari 2020 13:07 WIB
    Indonesia dan Australia Perangi <i>Fake News</i>
    Kunjungan Media Australia ke Media Group. Foto : Metro TV.
    Jakarta : Fake News atau berita palsu marak berkembang di banyak negara. Perkembangan melalui sosial media ini cukup meresahkan. Kepedulian terhadap fake news ini menjadi kepedulian media di Australia dan Indonesia. Keduanya berusaha berhati-hati dalam memberitakan kabar yang beredar di sosial media.

    Kepala Media dan Diplomasi Digital sekaligus Juru Bicara Kedutaan Besar Australia Ian Gerard mengatakan bahwa perkembangan sosial media akan membuat seseorang memiliki akses untuk menjadi perhatian publik. Tak peduli apa kontennya jujur atau bohong. Hal ini menjadi permasalahan baru.

    "Saya sangat peduli terhadap perkembangan sosial media. Namun tak bisa dipungkiri akses seseorang terhadap publik yang tak bisa dilakukan sebelumnya akan menimbulkan pegeseran baru," kata dia ketika berkunjung ke Media Grup diberitakan Minggu, 16 Februari 2020.

    Akses ini seperti perkembangan sosial media yang malah menjadi sumber informasi dari publik. Perkembangan sosial media seperti twitter, facebook dan instagram telah menjadi primadona baru. Sebagian informasi ada yang benar namun tak jarang juga ada yang menyebarkan berita palsu.

    Dia menjelaskan bahwa tren digital yang mengubah pola konsumsi berita menjadi penyebabnya. Pada 10 tahun lalu rating televisi seperti talk show boleh saja tinggi. Tetapi di era Netflix dan perkembangan digital maka pola konsumsinya berubah. Banyak orang lebih menyenangi konsumsi melalui berita daring.  

    Sementara itu Sarah Jane Tasker, Editor Bisnis dari The West  Australian mengatakan bahwa pertumbuhan peminat media online sudah sangat menjauhi media televisi. Dia juga menjelaskan bahwa kesulitan tumbuhnya digital diimbangi juga dengan user generated content yang menjadi tantangan bagi media konvensional.

    "Jujur saja menjamin berita di sosial media yang relevan sangat sulit. Maka kita juga membandingkanya dengan berita yang ada di konvensional. User generate content (UGC) dalam sosmed sangat tricky bagi industri televisi yang memantau perkembangan sosial media," jelasnya.

    Natalie Kotsios reporter The Weekly TImes menjelaskan bahwa ada dua identitias fake news yakni berita palsu atau memang berita yang disetir untuk untuk kepentingan tertentu. Nah tantangan wartawan adalah melakukan double fact sehingga informasi yang dipublikasikan menjadi tak bias.

    Dia menjelaskan berita bias di Australia muncul saat pemilu. Pada saat itu juga banyak informasi-informasi yang bisa memberikan salah paham kepada publik. Tren yang sama terjadi juga dalam Pemilu di AS, yang akhirnya bisa dimenangkan Donald Trump beberapa tahun silam.

    Sementara itu, Head of Content Enrichment & Social Media Jati Savitri menjelaskan bahwa Medcom berusaha melawan fake news dengan mengembangkan cek fakta.

    Tugas awal Cek Fakta lahir dari kebutuhan untuk memverisikasi fakta saat pilpres, terutama untuk mengecek kebenaran yang muncul dari sebelum hingga debat kandidat. Tugas itu masih berlanjut sampai sekarang.  

    Jati menjelaskan bahwa fungsi media konvensional adalah menjamin akurasi berita sehingga informasi yang muncul dari sosial media bisa diragukan kebenaranya jika tak mendapatkan konfirmasi dari media konvensional.



    (SAW)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id