160 Peneliti Siap Sukseskan Perpindahan Ibu Kota RI

    Willy Haryono - 23 Desember 2019 09:32 WIB
    160 Peneliti Siap Sukseskan Perpindahan Ibu Kota RI
    Dubes Umar Hadi berada di tengah-tengah kelompok peneliti Indonesia di Seoul, Korsel, Sabtu 21 Desember 2019. (Foto: KBRI Seoul)
    Seoul: Menindaklanjuti pertemuan dengan Presiden Joko Widodo di sela-sela perhelatan ASEAN-Republic of Korea Commemorative Summit di Busan November lalu, 160 ilmuwan peneliti Indonesia di Korea Selatan yang tergabung dalam asosiasi APIK (Asosiasi Peneliti Indonesia di Korea) menyampaikan komitmennya untuk menyukseskan proyek nasional perpindahan Ibu Kota dari Jakarta ke Kalimantan Timur.

    Hal tersebut diungkapkan ketua APIK Gregorius Rionugroho Harvianto pada saat peresmian APIK di Wisma Duta KBRI Seoul, Sabtu 21 Desember. 

    Peneliti muda yang akrab dipanggil Rio ini menegaskan bahwa pihaknya telah menyusun berbagai usulan strategis untuk melaksanakan hal tersebut. Salah satunya adalah membentuk klaster riset untuk akselerasi ide anggota di bidang keahliannya dengan misi percepatan kemajuan riset dan inovasi di Indonesia, yang akan dibangun dalam satu atap besar di Ibu Kota baru Indonesia.

    Duta Besar Indonesia untuk Korsel Umar Hadi yang turut menggawangi terbentuknya APIK menyambut baik komitmen tersebut. Lebih jauh Dubes Umar memberikan tantangan khusus, yaitu perlunya APIK memberikan masukan konkret kepada Pemerintah RI secara berkala, semisal per bulan.

    "Ada kepuasan tersendiri kalau kita bisa menciptakan suatu gagasan yang bermanfaat bagi bangsa. Karena itu kita harus melakukan pertemuan secara intensif untuk menyusun konsep tentang klaster riset dan inovasi yang bisa digunakan di Ibu Kota baru nanti," ujar Dubes Umar, dalam keterangan tertulis yang diterima Medcom.id, Senin 23 Desember 2019.

    "APIK perlu memberikan masukan berupa rancangan struktur dan kelembagaan, bahkan sistem remunerasinya. Selain itu, klaster yang dibentuk kiranya relevan dengan kebutuhan dan modalitas yang ada, misalnya clean coal dan refinery," sambung dia.

    Ilmuwan Peneliti Indonesia di Korea menyambut baik tantangan tersebut. Bahkan organisasi yang baru dibentuk ini langsung mengadakan pertemuan lanjutan secara offline dan akan mempresentasikan usulannya awal tahun 2020. 

    Selain rancangan klaster riset, APIK juga akan memberikan usulan konkret terkait pembentukan Universitas Riset Indonesia (URI) dengan mengadopsi struktur Korea Research Institute (KST). 

    APIK dibentuk sebagai wadah bagi para peneliti Indonesia di/lulusan Korea untuk mendorong percepatan kemajuan riset di Indonesia melalui inovasi dan kolaborasi. Misi terbentuknya APIK di antaranya membangun jaringan dan kolaborasi kuat antar-anggota, menjadi sarana pertukaran pengalaman, ilmu, keahlian dan informasi mengenai riset dan inovasi serta berperan aktif dalam percepatan kemajuan riset dan inovasi di Indonesia.

    Ilmuan Peneliti Indonesia di Korea berasal dari berbagai bidang keilmuan. Mulai dari Teknologi Informasi, kepintaran buatan, instrumentasi, energi, budaya, bioteknologi, kelautan dan perikanan, hingga teknologi nuklir. Bahkan meat science dan ilmu pemanfaatan limbah hewan juga ada. 

    Anggota APIK terdiri dari Dosen/Research Professor, Post-doctoral Researcher Peneliti di R&D perusahaan atau lembaga riset lulusan Korea serta mahasiswa S3 di Korsel.



    (WIL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id