Dua Pedemo Hong Kong Disidang Atas Larangan Masker - Medcom

    Dua Pedemo Hong Kong Disidang Atas Larangan Masker

    Willy Haryono - 07 Oktober 2019 12:10 WIB
    Dua Pedemo Hong Kong Disidang Atas Larangan Masker
    Demonstran berkumpul di luar gedung pengadilan Eastern District Court di Hong Kong, Senin 7 Oktober 2019. (Foto: AFP/MOHD RASFAN)
    Hong Kong: Dua demonstran Hong Kong hadir di sebuah persidangan terkait kasus pelanggaran terhadap larangan penggunaan masker, Senin 7 Oktober 2019. Mereka adalah dua orang perdana yang diseret ke hadapan hukum usai pemimpin Hong Kong Carrie Lam melarang semua demonstran mengenakan masker.

    Larangan penggunaan masker merupakan bagian dari Emergency Regulation Ordinances -- hukum era kolonial yang memungkinkan diterapkannya aturan apapun saat Hong Kong berada dalam status darurat.

    Kedua pedemo yang disidang adalah seorang mahasiswa dan wanita berusia 38 tahun. Mereka ditangkap atas tuduhan mengenakan masker meski larangan tersebut telah diberlakukan.

    Saat keduanya disidang, ratusan orang di luar gedung pengadilan meneriakkan sejumlah slogan seperti "mengenakan masker bukan sebuah kejahatan" dan "hukum tidak adil."

    Selain soal masker, dua demonstran itu juga dituduh telah melanggar larangan berkumpul secara ilegal. Masing-masing pasal dapat berujung pada vonis satu tahun dan tiga tahun penjara.

    Banyak pengunjuk rasa di Hong Kong menilai larangan penggunaan masker ini adalah satu dari banyak aturan darurat lainnya.

    "(Larangan masker) itu hanyalah alasan untuk mengenalkan undang-undang totaliter. Nanti mungkin akan ada hukum mliter," tutur Lo, seorang demonstran di luar gedung pengadilan, kepada kantor berita AFP.

    Minggu 6 Oktober, sebuah pengadilan di Hong Kong menolak sebuah gugatan yang menentang larangan penggunaan masker. Seorang hakim senior menolak gugatan tersebut.

    Saat pengadilan menolak gugatan, dua unjuk rasa tanpa izin digelar di dua sisi area Victoria Harbor. Ribuan pedemo bertopeng berkumpul di wilayah tersebut, meski Hong Kong tengah diguyur hujan deras.
     
    "Saya berani bilang ini adalah salah satu kasus konstitusi terbesar dalam sejarah Hong Kong," ucap seorang anggota parlemen Dennis Kwok kepada awak media sebelum pengadilan mengeluarkan putusan.

    Gelombang protes di Hong Kong berawal dari penolakan terhadap Rancangan Undang-Undang Ekstradisi. Aksi protes tetap berlanjut meski RUU Ekstradisi dicabut, dan kini meluas menjadi gerakan pro-demokrasi dan penentangan terhadap Hong Kong serta Tiongkok.
     
    Hong Kong adalah bekas koloni Inggris, yang sudah dikembalikan ke Tiongkok pada 1997 di bawah sistem "Satu Negara, Dua Sistem." Sistem tersebut menjamin otonomi Hong Kong.



    (WIL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id