Myanmar Harap Repatriasi Rohingya Lancar Lewat Tim Ad Hoc

    Marcheilla Ariesta - 15 November 2019 05:12 WIB
    Myanmar Harap Repatriasi Rohingya Lancar Lewat Tim Ad Hoc
    Duta Besar Myanmar untuk ASEAN, U Min Lwin. Foto: Medcom.id/Marcheilla Ariesta
    Jakarta: Duta Besar Myanmar untuk ASEAN, U Min Lwin mengatakan negaranya siap menerima kembali pengungsi Rohingya. Dia mengatakan negaranya menyetujui pembentukan tim gugus tugas ad hoc untuk membantu proses repatriasi pengungsi Rohingya dari Bangladesh ke Myanmar. 

    "Karena ini merupakan kelanjutan dari keputusan yang dibuat para pemimpin negara ASEAN pada KTT tahun lalu. Myanmar telah menyetujui hal ini (tim ad hoc) karena itu akan menjadi lebih baik bagi proses repatriasi," katanya di Jakarta, Kamis 14 November 2019.

    Dia menambahkan ASEAN Humanitarian Assistant Centre (AHA Centre) yang dipimpin Sekretaris Jenderal ASEAN Lim Jock Hoi perlu tim untuk mendukung Myanmar dalam repatriasi pengungsi Myanmar.

    Proses implementasi itu, disampaikannya, memerlukan fokus satu tim sendiri karena Sekretariat ASEAN sibuk dengan banyak urusan lainnya. Dubes U Min menjelaskan bahwa personel atau pejabat dari satgas tersebut akan dipilih langsung oleh Sekjen ASEAN.

    Menurut dia, Myanmar membutuhkan bantuan dari satgas tersebut karena AHA Centre tidak memiliki kapasitas yang cukup untuk membantu proses repatriasi pengungsi Rohingya.

    Dalam kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Kerja Sama ASEAN Kementerian Luar Negeri RI Jose Tavares mengatakan bahwa satgas ad hoc akan membantu Pemerintah Myanmar untuk mempercepat proses repatriasi. Salah satu caranya adalah mendorong terjadinya dialog dengan para pengungsi Rohingya yang ada di Cox's Bazar.

    "Satgas ini akan mulai bekerja sesegera mungkin. Sekarang kita sedang menunggu Sekjen ASEAN selesai merancang timnya," lanjut dia.

    Dubes U Min menyebut Myanmar telah menyiapkan akomodasi dan persiapan transit untuk menerima para pengungsi Rohingya kembali ke Rakhine State.

    "Untuk persoalan kewarganegaraan pengungsi Rohingya, kami berusaha membuat prosesnya sangat cepat dan lancar, tapi tentu kami tidak dapat dengan mudah memberikan kewarganegaraan," jelas U Min.

    Menurut dia, isu keamanan bukan satu-satunya yang jadi tantangan. Dia menambahkan, proses repatriasi terhambat karena sejumlah masalah yang rumit lainnya. 

    "Pihak Myanmar telah melakukan semua bagian kami untuk melancarkan proses repatriasi, tetapi perlu tindak lanjut dari Bangaldesh," kata dia.

    Myanmar, tambahnya, bukan negara yang kaya, maka perlu berhati-hati dalam merepatriasi pengungsi dari Cox'z Bazar dan memastikan bahwa mereka yang pulang benar-benar merupakan pengungsi yang berasal dari Rakhine State.

    "Kami ingin memulangkan mereka yang meninggalkan Myanmar, bukan menyambut pengungsi lain yang bukan dari negara kami," tegas Dubes U Min.
     
    Salah satu hasil KTT ke-35 ASEAN di Thailand pada 2-4 November lalu adalah pembentukan satuan tugas ad hoc yang diharapkan dapat mempercepat proses repatriasi pengungsi Rohingya dari Cox's Bazar ke Rakhine State.

    Proses ini harusnya dilakukan sejak 2017, namun selalu diundur. Pengungsi juga sempat menyatakan takut kembali ke Myanmar karena mereka khawatir situasi di sana belum aman dan kekerasan akan terjadi lagi.



    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id